Home / Advertorial / Sulsel

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Dosen UNM Dampingi Remaja Parambambe Kelola Sampah dengan Teknologi IoT

MEDIASINERGI.CO

MAKASSAR – Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengenalkan teknologi Internet of Things (IoT) kepada Karang Taruna DESPAR dan masyarakat Desa Parambambe, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, untuk mengelola sampah secara lebih efektif, transparan, dan bernilai ekonomi melalui Bank Sampah Cerdas.

Teknologi tersebut diterapkan dalam bentuk smart bin yang dilengkapi sistem penimbangan digital, sensor kepenuhan, modul GPS, pencatatan data otomatis, serta dashboard monitoring. Program ini digarap Tim PKM Jurusan Teknik Elektronika dan Teknik Otomotif Fakultas Teknik UNM yang melibatkan Mantasia, Muhammad Mahdinul Bahar, dan Hendra Jaya.

Mantasia dari Tim PKM UNM menjelaskan, kegiatan ditujukan kepada 25 anggota aktif Karang Taruna DESPAR berusia 16–30 tahun serta warga desa melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang partisipatif. “Kami ingin pemuda menjadi katalisator perubahan. Selama ini mereka aktif di bidang sosial dan lingkungan, tetapi masih terbatas dalam aktivitas produktif yang sekaligus menjawab persoalan sampah,” ujarnya.

Baca Juga:  Peduli UMKM, Pemkot Makassar Berikan Ruang Bagi Pedagang Losari

Salah satu inovasi utama adalah sistem Bank Sampah Cerdas berbasis IoT. Perangkat ini memungkinkan pengelola memantau berat sampah melalui load cell, tingkat kepenuhan smart bin lewat sensor ultrasonik, lokasi unit lewat GPS, serta pencatatan poin reward secara real-time melalui dashboard. “Pemantauan real-time memudahkan penjemputan tepat waktu, mencegah penumpukan, dan memberikan insentif poin digital yang bisa ditukar dengan uang elektronik atau barang,” kata Mantasia.

Baca Juga:  Irup HSN 2019, Bupati Wajo: Pesantren Sebagai Laboratorium Perdamaian

Dorong Partisipasi dan Nilai Ekonomi

Sebelum program berjalan, pengelolaan sampah di desa masih belum berkelanjutan. Banyak warga membuang atau membakar sampah sembarangan, menumpuk di lahan bekas galian batu bata, serta mencemari saluran air dan kawasan pesisir. Rendahnya kesadaran, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya pencatatan menjadi penyebab utama.

Dengan sistem baru, masyarakat cukup memilah sampah organik dan anorganik di sumber, lalu menyetorkannya. Sampah ditimbang secara digital, poin otomatis tercatat, dan pengelola mendapat notifikasi ketika bin hampir penuh. “Teknologi ini mengurangi pekerjaan manual sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan dari sistem poin dan hasil daur ulang,” tambahnya.

Share :

Baca Juga

Sulsel

Hingga September 2026, Pemkot Makassar Kuasai PSU 221 Perumahan Senilai Rp6,93 Triliun

Sulsel

Munafri Titip Tugas Khusus untuk Kepala UPT TPA Tamangapa: Benahi Sistem, Rangkul Warga

Sulsel

Buka Muscab HNSI Makassar, Munafri Tegaskan Perhatian Pemkot pada Ekonomi Pesisir

Sulsel

DPRD Wajo Gelar Paripurna Bahas Perubahan APBD 2026, Pendapatan Daerah Naik Rp90,9 Miliar

PINRANG

Bupati Pinrang Serahkan Secara Simbolis Kendaraan Operasional Pendukung Koperasi Merah Putih

Sulsel

Munafri Tepati Janji Politik: Beban Warga Diringankan, 9307 KK Tamalate Bebas Iuran Sampah

Sulsel

Tampil Tak Terkalahkan, Wajo Lolos ke Perdelapan Final Piala Gubernur 2026

Sulsel

Sudah 5123 KK Penerima Iuran Sampah Gratis di Kecamatan Panakkukang