Home / Makassar / Sulsel

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Ketika Pengabdian Berakhir, Kenangan Tak Pernah Padam

SELAMAT JALAN SANG PEKERJA SOSIAL ANDAL
Laporan Syakhruddin DN

MEDIASINERGI.CO

MAKASSAR – Ada orang yang kehadirannya hanya dikenang oleh keluarga, tetapi ada pula yang kepergiannya meninggalkan kesedihan di hati begitu banyak orang.

Dra. Hj. Nuraeni binti Latif Puddu, yang akrab disapa Bu Eny, adalah salah satu di antaranya. Sosok perempuan yang dikenal luas di tengah masyarakat Ujung Tanah, Makassar, ini telah mengukir jejak pengabdian melalui kerja-kerja sosial yang tidak mengenal lelah.

Deretan amanah pernah disandangnya. Mulai dari Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Ujung Tanah, Paralegal APIK, Ketua Fatima Az Zahra, Tim Penggerak PKK Pokja III, hingga Ketua Shelter Warga Kelurahan Pattingalloang.

Jabatan-jabatan itu bukan sekadar deretan nama dalam perjalanan kariernya, melainkan ruang pengabdian untuk menyentuh kehidupan masyarakat, terutama perempuan, keluarga rentan, dan warga yang membutuhkan pertolongan termasuk para Lansia.

Bagi Bu Eny, pekerjaan sosial bukan sekadar profesi yang dijalankan dari balik meja. Ia hadir, mendengar, mendampingi, dan mencari jalan keluar. Hatinya tak pernah benar-benar tenang ketika mengetahui ada warga dampingan yang belum memperoleh pelayanan sebagaimana mestinya.

Ada kegelisahan yang selalu mendorongnya untuk bergerak. Sebab baginya, kebahagiaan seorang pekerja sosial bukan terletak pada pujian, melainkan ketika melihat masyarakat yang didampinginya mampu bangkit dan tersenyum kembali.

Kemampuannya dalam menggerakkan masyarakat membuat Bu Eny kerap dipercaya menjadi narasumber di berbagai forum, baik di lingkungan DP3A Kota Makassar, Kementerian Sosial, Pertamina, maupun sejumlah instansi lainnya.

Pengalamannya bahkan membawanya melangkah hingga ke luar negeri. Ia bukan hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkenalkan potensi perempuan dan kekuatan usaha masyarakat.

Di balik kesibukannya dalam dunia sosial, Bu Eny juga memiliki jiwa kewirausahaan. Pallu Mara dan ikan bandeng tanpa tulang menjadi salah satu ikon kuliner yang diperkenalkannya hingga ke luar negeri.

Belum lagi usaha abon ikan yang dirintisnya sejak awal dan mendapat tempat tersendiri di hati para pelanggan. Sebuah bukti bahwa perempuan pekerja sosial juga mampu menjadi penggerak ekonomi keluarga dan masyarakat.

Namun, Jumat, 30 Oktober 2026, menjadi hari yang tak mudah dilupakan. Sang Khalik telah memanggilnya pulang. Dengan wajah tersenyum, Bu Eny mengembuskan napas terakhir, setelah anak-anaknya pulang dari menunaikan salat Jumat dan menyaksikan detik-detik kepergian sang ibu tercinta.

Sebuah peristiwa yang meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga yang selama ini menjadikannya tempat bersandar.

Petang itu, rumah duka menjadi tempat bertemunya rasa kehilangan. Ketua Tim Penggerak PPK Kota Makassar bersama anggota turut hadir menyampaikan belasungkawa.

Tampak pula mantan Kepala Bidang Perlindungan Perempuan DP3A, Hj. Hapidah Djalante, S.IP, sejumlah pengurus Shelter Warga, sahabat-sahabat dekatnya seperti Nurhana dan Ibu Sumarni, serta Kepala UPTD Kota Makassar, Ibu Andi Herliana.

Kehadiran mereka menjadi saksi bahwa Bu Eny bukan sekadar seorang aktivis perempuan, tetapi pribadi yang meninggalkan ikatan persaudaraan dan kenangan mendalam.

Insyaallah, Sabtu, 31 Oktober 2026, selepas salat Zuhur, jenazah almarhumah akan diantar menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Kabupaten Maros.

Langkah-langkah yang dahulu digunakannya untuk mendatangi warga, kini tak lagi terdengar. Suaranya yang biasa memberikan semangat dan arahan, tak lagi menyapa. Tetapi jejak pengabdiannya akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan ketulusan tangannya.

Selamat jalan, Bu Eny. Engkau telah menutup lembaran pengabdian di dunia, tetapi tidak dengan cerita kebaikan yang pernah engkau tanam.

Mungkin tak semua orang mengetahui berapa banyak persoalan warga yang telah engkau bantu selesaikan, berapa banyak perempuan yang pernah engkau kuatkan, dan berapa banyak keluarga yang pernah engkau dampingi. Namun, Tuhan tidak pernah luput mencatat setiap kebaikan, sekecil apa pun itu.

Hari ini, dunia pekerjaan sosial kehilangan seorang perempuan tangguh. Shelter Warga kehilangan pemimpinnya. Masyarakat Ujung Tanah kehilangan sosok yang selalu siap hadir ketika dibutuhkan. Dan keluarga kehilangan seorang ibu yang kasih sayangnya tak akan pernah tergantikan (sdn)

Ada pengabdian yang selesai bersama detak jantung, tetapi ada ketulusan yang tetap hidup meski jasad telah berkalang tanah.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya ….. Al-Fatihah.

Ditulis oleh Asmarani Harma

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Share :

Baca Juga

Sulsel

Wali Kota Munafri Minta Kontraktor Berdayakan Warga Untia dalam Pembangunan Stadion

PINRANG

Siswa UPT SDN 240 Pinrang Raih Prestasi di Ajang Bazar dan Dakwah Keliling DMI x IDM

PINRANG

Pemkab Pinrang Matangkan Persiapan Menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan

Sulsel

Bupati Takalar Hadiri Rakor Aset Daerah dan Penyerahan Sertifikat BMD di Makassar

Makassar

Buka Konferda V API Sulsel, Brigjen TNI (Purn) Harsanto Adi Tekankan Pentingnya Konsolidasi Organisasi

Sulsel

Hadiri Rapat Persiapan HUT Makassar, Sekwan DPRD Dukung Sinergi Antar Perangkat Daerah

Sulsel

Tak Lagi Kenal RS Tipe A-B-C, Kota Makassar Siap Terapkan Sistem Rujukan Berbasis Kompetensi

Sulsel

DPRD Pinrang Menyepakati Penyempurnaan Ranperda Perubahan APBD 2026