Langkah ini diproyeksikan mampu meningkatkan populasi ikan tangkapan dalam beberapa bulan ke depan, sekaligus menjaga siklus regenerasi biota air di Danau Tempe.
Menurut Alumni STPDN ini, pemulihan danau tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan eksploitasi melainkan perlu keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.
“Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup harus dijaga. Tanpa itu, produktivitas perikanan akan terus menurun. Karena itu kegiatan seperti ini terus kita dorong sebagai intervensi ekologis yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Visi Wajo Maradeka yang diusungnya menempatkan masyarakat sebagai pusat pembangunan. Namun, pemkab menilai kesejahteraan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Pemulihan Danau Tempe pun diposisikan sebagai program prioritas yang mengikat aspek ekologis, sosial, dan ekonomi menjadi satu kesatuan.
Pemkab Wajo menggarisbawahi bahwa keberhasilan restorasi danau akan menjadi katalis peningkatan pendapatan nelayan, memperkuat rantai pasok perikanan, dan membuka ruang bagi inovasi ekonomi lokal seperti pengolahan hasil tangkapan, pariwisata air, hingga komoditas perikanan bernilai tinggi.
“Kami secara serius memikirkan bagaimana Tappareng ini kembali melimpah. Jika hasilnya meningkat, maka ekonomi masyarakat ikut bergerak, dan daerah juga merasakan manfaatnya,” tegas Rosman.
Ia pun menekankan perlunya kolaborasi lintas pihak dalam menjaga ekosistem Danau Tempe. Pemerintah daerah menjalankan pengawasan, edukasi, serta penguatan kapasitas nelayan, sementara masyarakat diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga kawasan danau dari praktik merusak seperti penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Bupati Rosman mengajak seluruh warga menjaga danau sebagai warisan ekologis daerah. “Sembari dimanfaatkan, mari bersama menjaga keberlangsungan ekosistem Danau Tempe. Jika kita melestarikan dengan tulus, saya yakin hasilnya akan menjadi berkah bagi kita semua,” pungkasnya. (Adv)
















