Meski harus memutar dan melewati jembatan kayu seadanya, Desa Buntul menjadi pemberhentian pertama ku sebelum menuju ke Lhokseumawe.
Warga disana bercerita, jalan menuju Lhokseumawe macet total. Ribuan warga dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah memadati jalanan berlumpur untuk mencari kebutuhan pokok, beras. Akses masih terbatas dan paling nyaman dilewati dengan berjalan kaki.
Tanpa pikir panjang ku parkirkan kereta, ku jinjing tas ransel berisi baju, sepatu dan laptop. Aku bulatkan niat untuk melangkahkan kaki menuju UKW di Lhokseumawe.
Benar saja, ribuan warga memadati jalan ini. Tujuannya hampir sama, mencari kebutuhan pokok. Saling bertukar sapa, berbagi cerita sembari terus melangkahkan kaki menuju Aceh Utara. Lumpur setinggi mata kaki menemani setiap derap langkah kami. Tidak ada yang mengeluh, semua tampak sungguh-sungguh.
Dibutuhkan hampir 2 jam perjalanan dari Desa Buntul ke Desa Seni Antara Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Lutut mulai tak bersahabat, tapi malu untuk berhenti. Di kanan dan di kiri orang-orang dengan gagah memanggul beban puluhan kilo cabe merah, dibawa untuk dijual ke Lhokseumawe.
Setibanya di Desa Seni Antara mulai tampak pasar dadakan tempat warga saling bertukar barang dagangan. Hasil palawija dari Bener Meriah ditukar dengan kebutuhan pokok dari Aceh Utara. Ku ambil sebotol air putih, ku teguk, ku rebahkan diri pada rumput di pinggiran jalan.
Disana banyak warga yang mau memberi tumpangan roda dua. Tanpa pikir panjang, ku pilih meneruskan perjalanan dengan roda dua saja, perjalanan masih jauh pikirku.
Tumpangan roda dua ini ternyata hanya sampai kilometer 42, tempat tentara membangun posko tenda. Sisanya harus kembali kulanjutkan dengan berjalan. Beruntung, tak sampai 10 menit ada mobil warga yang lewat dan akhirnya ku tumpangi hingga sampai Lhokseumawe, sampai menuju ke lokasi UKW.
Perjuangan ku ini mungkin tak seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan warga Bener Meriah yang terancam kelaparan karena keterisoliran akibat bencana ini. Tapi biarlah jadi semangat, bahwa kita tetap harus melawan, melangkah menjemput kesempatan.
Jangan sampai bencana ini memadamkan api semangat perjuangan. Yakinlah, keterisoliran dan bencana ini hanyalah cobaan. Sebuah cobaan yang pasti dapat kita lalui dengan perjuangan. (r)
















