Bupati Daeng Manye juga memperluas jaringan kolaborasinya. Pemerintah Kabupaten Takalar dipastikan akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Selatan, serta Balai Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) dan Kebakaran Hutan dan Lahan (KHL) Wilayah Sulawesi.
Keterlibatan instansi regional dan vertikal ini dinilai krusial untuk memperkuat pengawasan teknis, fasilitasi program ProKlim di tingkat tapak, serta mempercepat implementasi adaptasi perubahan iklim di Kabupaten Takalar.
Selaras dengan visi-misi Daeng Manye, langkah berani ini dinilai sangat koheren dengan visi-misi Bupati Takalar yang berfokus pada kemandirian ekonomi daerah, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan hidup.
Sejak awal menjabat, Daeng Manye berkomitmen membawa Takalar menjadi daerah yang inovatif dan adaptif terhadap tantangan global, termasuk perubahan iklim yang mengancam sektor pertanian lokal.
Dengan mendorong sektor pertanian agroekologi—yang meminimalkan input kimia dan menjaga ekosistem Takalar tidak hanya mengamankan ketersediaan pangan warganya secara mandiri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui sektor eduwisata berbasis pertanian cerdas.
Setelah rangkaian workshop (cascading workshops) dan persiapan matang ini selesai, agenda akan dilanjutkan dengan sistem pemantauan mandiri (self-monitoring).
Hal ini guna memastikan bahwa penerapan praktik agroekologi yang berkelanjutan di Takalar benar-benar memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), serta perlindungan lingkungan hidup secara jangka panjang.
Kolaborasi multipihak yang semakin solid ini menjadi sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinan Daeng Manye, Kabupaten Takalar siap bertransformasi menjadi salah satu pusat percontohan pembangunan hijau dan pertanian berkelanjutan di Sulawesi Selatan.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















