Oleh Sakinah Yasa Syahrul (Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS)
MEDIASINERGI.CO
SIDRAP – Upaya meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah terus dilakukan melalui pendekatan promotif dan preventif. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pendidikan Profesi Angkatan 69 melaksanakan program kerja bertajuk SAHABAT GIGI (Skrining dan Edukasi Kesehatan Gigi Anak Terpadu) di SDN 01 Tonronge, Desa Tonrong Rijang, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan, 30–31 Juli 2026.
Sakinah Yasa Syahrul, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi peran mahasiswa dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut anak sejak usia dini.
Kegiatan SAHABAT GIGI dilatarbelakangi masih tingginya angka kasus karies gigi pada anak. Berdasarkan Global Oral Health Status Report yang diterbitkan World Health Organization (WHO) tahun 2022, sekitar 3,5 miliar penduduk dunia mengalami penyakit gigi dan mulut, dengan karies gigi yang tidak dirawat menjadi salah satu penyakit paling umum secara global. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan bahwa 56,9 persen penduduk berusia 3 (tiga) tahun ke atas mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Data tersebut menunjukkan bahwa edukasi dan pencegahan sejak dini masih menjadi kebutuhan yang sangat penting.

Selama 2 (dua) hari pelaksanaan, sebanyak 12 siswa kelas I SDN 01 Tonronge mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi skrining kesehatan gigi dan mulut, edukasi mengenai penyebab serta pencegahan karies, pengenalan makanan yang baik untuk kesehatan gigi, demonstrasi cara menyikat gigi yang benar, permainan edukatif, hingga sesi tanya jawab. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, para siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan.
Skrining kesehatan gigi dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi setiap siswa secara dini sehingga permasalahan yang ditemukan dapat menjadi perhatian orang tua maupun pihak sekolah untuk memperoleh tindak lanjut melalui pelayanan kesehatan gigi. Sementara itu, edukasi diberikan sebagai upaya membentuk kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia sekolah dasar, mengingat pada usia tersebut anak sedang berada dalam fase pertumbuhan gigi permanen yang lebih rentan mengalami karies.

















