Ketika rombongan tiba di kediaman Watie, haru seakan menggantung di udara. Musibah telah mengambil seluruh harta benda dan kenyamanan, tetapi justru memperlihatkan betapa kuatnya ikatan persahabatan.
Sahabat-sahabatnya para ketua shelter warga se Kota Makassar, datang menyapa, memeluk, mendengar cerita, sekaligus menyambangi para korban yang sedang menata kembali sisa-sisa kehidupan.
Begitulah kehidupan. Kadang api datang tanpa permisi, merenggut apa yang kita miliki dalam hitungan menit.
Tetapi pada saat yang sama, musibah juga memperlihatkan siapa yang benar-benar hadir ketika kita kehilangan.
Rumah boleh terbakar, dinding boleh runtuh, tetapi kepedulian yang tumbuh dari hati ke hati tidak akan mudah menjadi abu.
Musibah memang meninggalkan luka, tetapi persaudaraan menghadirkan obatnya. Sebab, ketika rumah kehilangan atapnya, manusia masih dapat menjadi tempat berteduh bagi sesamanya. (sdn)

















