Pemerintah Kabupaten Wajo mengemas festival tersebut bukan sekadar sebagai pesta hiburan. Kegiatan ini diarahkan menjadi ruang mempererat persaudaraan, menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, mendorong kreativitas masyarakat, menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui pelaku UMKM, serta merawat seni dan budaya sebagai identitas Wajo.
Namun di antara rangkaian kegiatan itu, lomba menyanyi antar-OPD menjadi salah satu magnet tersendiri. Dan Trio Lolita berhasil mencuri panggung.
Balutan sutera Wajo yang mereka kenakan seolah menjadi pernyataan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus dipertentangkan. Di tangan tiga pejabat perempuan itu, kain sutera bukan sekadar busana, tetapi bagian dari pertunjukan yang membawa identitas Wajo ke atas panggung.
Penampilan mereka juga memperlihatkan wajah lain birokrasi: lebih dekat, cair dan menghibur.
Gebyar Maradeka Festival diharapkan menjadi rangkaian perayaan kemerdekaan yang tidak berhenti pada seremoni.
Festival ini menjadi ajang mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif, produktif sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang kebersamaan masyarakat.
Dan malam itu, Trio Lolita memastikan Gebyar Maradeka Festival punya cerita yang sulit dilupakan.
Tiga pejabat. Satu panggung. Satu lagu legendaris. Dan sutera Wajo yang ikut bergoyang bersama denting “Penasaran”. (Ddy)
















