MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Adat Suku Bugis – Makassar di Sulawesi Selatan sangat dikenal dengan istilah “Uang Panaik”. Dimana ketika pihak laki-laki ingin menikahi kekasihnya sangat mahal. Uang panaik yang diidentikkan masyarakat Sulsel sebagai mahar atau maskawin.
Demi meringankan pihak Laki-Laki yang ingin menikahi kekasihnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel tengah menggarap Fatwa uang panaik tersebut.
Ketua Bidang Fatwa MUI Sulsel, Dr. KH. Ruslan Wahab, MA mengatakan bahwa MUI Sulsel akan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terkait Fatwa uang panaik dalam waktu dekat ini.
“Dengan pertimbangan dalil, nantinya kita harapkan terjadi kemudahan dan kemaslahatan bersama di masyarakat terutama tentang uang panaik. Intinya kita berupaya untuk menciptakan kemudahan dan kemaslahatan di masyarakat,” ujar KH. Ruslan Wahab.
Selain itu, Ruslan juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa dalam Islam, pernikahan harus dimudahkan. “Terkait besarnya uang panai, Hanya adatlah yang menginginkan seperti itu,” jelasnya.
Ia pun turut mengomentari berita seorang pria di Kabupaten Maros yang ditangkap beberapa hari lalu, karena diduga mencuri lantaran hendak menikah dan terkendala uang panai. “Tingginya uang panaik dan keinginan menikah yang kuat menyebabkan lelaki tersebut mencuri. Ini sangat disayangkan,” ungkapnya.
Ruslan berharap, agar masyarakat memberi kemudahan uang panai kepada calon mempelai pria sehingga tidak terjadi lagi hal seperti yang terjadi di Kabupaten Maros tersebut.
Untul diketahui, mahar dan uang panai adalah dua hal yang berbeda. Uang panai merupakan tradisi adat Bugis – Makassar sebagai uang belanja yang diberikan mempelai laki laki kepada keluarga mempelai perempuan untuk kebutuhan resepsi pernikahan, sedangkan mahar adalah uang atau barang yang diberikan mempelai pria kepada mempelai wanita atau istri dan menjadi hak mutlak bagi dirinya.(*)











