Home / Nasional

Jumat, 25 November 2022 - 11:25 WIB

NGOPI (NGObrol PwI) di konkernas dan porwanas 

Ketua Umum PWI Atal S Depari menutup Konkernas PWI di Malang Jawa Timur

Ketua Umum PWI Atal S Depari menutup Konkernas PWI di Malang Jawa Timur

oleh rukman nawawi

– kita berterima kasih kepada siwo pwi, berhasil kerja sama dgn kemenpora dalam pelaksanaan konkernas, porwanas, dan dbon.

+ iya, memang kita patut berterima kasih kepada siwo, namun sayangnya tujuan porwanas tercederai adanya oknum sok jagoan memukul sesama temen wartawan.

– aduh bro, ini kan ajang silaturahmi, ngumpul-ngumpul sambil kangen-kangenan, ketawa-ketawaan dan rekreasi ?

+ betul bro, siwo berhasil mengumpulkan kita, tapi sayang di beberapa cabor porwanas masih ada adu jotos.

– bro, temen-temen minta pengurus pusat mengevaluasi sistem dan ketegasan persyaratan peserta cabor.

+ harusnya begitu bro, kalau gak bisa, bubarkan saja cabor yg berpotensi adu fisik. Seperti *sepak bola dan futsal.*
Lagi pula bro, harusnya sebelum bertanding, dibacakan dulu nama-nama pemain, lengkap dengan lampiran persyaratan, seperti copy kartu ukw, kartu pwi anggota biasa beserta kartu tanda penduduk oleh panitia keabsahan atau dewan hakim ?
Semua persyaratan itu *harus* diperlihatan sebelum bertanding. Jangan hanya bentuk pengakuan-pengakuan lisan saja dari peserta cabor.

Baca Juga:  HMI Wajo Sukses Laksanakan Intermediate Training dan Senior Course Tingkat Nasional

– udalah bro, kita serahkan saja masalah porwanas dibahas di rakornas siwo mendatang.

+ ok bro….

– bro, kenapa sih tidak ada lomba karaoke pwi, seperti ikwi ?

+ kalau itu sih bisa dipertimbangkan di porwanas mendatang. Asal jangan ada wartawan lulusan kdi atau indonesian idol…
heheheee….

– eh bro, di konkernas, kata temen-temen ada pula yg aneh-aneh ?

+ oh banyak bro, ada masalah peraturan dasar (pd), peraturan rumah tangga (prt) dan ada pula di kode perilaku wartawan (kpw).

Baca Juga:  Wabup Takalar Hadiri Peringatan Hari Lingkungan Hidup PPLH Puntondo Tahun 2025

– apanya yang aneh-aneh bro ?

+ katanya sih itu pd-prt dan kpw ga sempat diplenokan saat kongres 2018 lalu. Jadinya, banyak pasal-pasal tumpang-tindih, alias dipahami sendiri-sendiri. Misalnya dicampur-adukkan peran wartawan yang menjalankan aktivitas organisasi dan watawan yg menjalankan profesi jurnalistik.

– wah, kok bisa begitu bro ?

+ itulah kalau pd-prt dan kpw ga punya penjelasan seperti kode etik jurnalistik (kej).

– bro, kasus pa basril basar di sumatera barat itu gimana ?

+ nah, ini lagi-lagi terjadi beda pemahaman dan penafsiran.
Katanya di pd melarang jabatan pengurus lebih dari 2 X secara berturut-turut. Ada yg memahami, kalau ga berturut-turut, atau jeda sekali, berarti bisa dong maju lagi?

Share :

Baca Juga

Jakarta

Integrasi Data Bea Cukai-Pajak Dinilai Mendesak, BCW: Jangan Berhenti pada Pertukaran Data

Nasional

Dukung Asta Cita Presiden, Wamendes Riza Patria Minta Wahdah Islamiyah Jadi “Sahabat Desa”

Nasional

Menunggu Titah dari Kalteng, Jalan Keluar Jebakan HPM Tinggi Pasir Kuarsa Kepri

Nasional

Ketum PWI Pusat Pimpin Delegasi Indonesia ke General Assembly CAJ di Kuala Lumpur

Nasional

Pekan Kedua April 2027, Lampung Tuan Rumah HPN dan Porwanas

Nasional

Gema Paskah Nasional 2026, Saat Puluhan Ribu Umat dan Tokoh Bangsa Bersatu di Manado

Nasional

Presiden RI Prabowo Subianto Beri Penghormatan Terakhir Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL

Nasional

Menlu Sugiono Ucapkan Belasungkawa atas Gugurnya Prajurit UNIFIL di Lebanon