MEDIASINERGI.CO
WAJO – 29 Maret telah lewat—tenang, seperti sejarah yang sering kali hanya diingat sepintas.
Dan hari ini, Kamis 9 April 2026 —adalah panggung meriah, seperti perayaan yang kerap kita siapkan dengan penuh semangat.
Di antara keduanya, berdiri di usia ke-627. Bukan sekadar angka panjang, tapi juga cermin yang diam-diam bertanya: apakah kita benar-benar bergerak, atau hanya pandai merayakan?
Tema “Mengokohkan Kebersamaan Menuju Wajo Maradeka” terdengar indah—dan memang seharusnya begitu. Namun kebersamaan, jika hanya berhenti di spanduk dan panggung seremoni, sering kali lebih mirip gema daripada gerak. Nyaring di depan, tapi pelan di dalam.
Sejak 1399, Wajo sudah memiliki keberanian untuk mendefinisikan dirinya sendiri: “Maradeka to Wajoe, najajiang alena maradeka.” Sebuah filosofi yang tidak membutuhkan pengeras suara—karena ia hidup dalam sikap. Tapi di usia 627 tahun, mungkin kita perlu jujur bertanya: apakah Maradeka masih menjadi prinsip, atau sekadar jargon yang nyaman diucapkan?
Kita bicara tentang Wajo Maradeka—Maju, Religius, Bermartabat, Terdepan, dan Berkeadilan.
Semua terdengar utuh. Hampir terlalu utuh. Sampai kadang kita lupa: yang sulit bukan merangkainya dalam kalimat, tapi mewujudkannya dalam kenyataan.
















