Oleh Yono Hartono, Wakil Direktur CAJ PWI Pusat, Wakil Ketua Umum SMSI Pusat
MEDIASINERGI.CO
Malam itu, Jumat 17 April 2026, selepas adzan Maghrib, suasana terasa biasa saja, setidaknya di permukaan. Aktivitas berjalan sebagaimana mestinya. Briefing staf media online selesai, percakapan mengalir ringan, tak ada tanda bahwa waktu sedang menyiapkan sebuah perpisahan.
Namun ada satu hal yang berbeda: firasat.
“Perasaan ku kok tidak enak ya…”
Kalimat sederhana itu melintas, seperti isyarat yang sering datang tanpa penjelasan. Sebuah getaran batin yang sulit diterjemahkan, tapi nyata terasa. Dan seperti banyak kejadian sebelumnya, firasat itu kembali menemukan maknanya.
Tak lama kemudian, kabar itu datang.
Zulmansyah Sekedang—Sekretaris Jenderal PWI Pusat—telah berpulang di usia 54 tahun.
Seolah waktu berhenti sejenak. Dunia jurnalistik kehilangan bukan hanya seorang tokoh, tetapi juga seorang pribadi yang dikenal tegar, hangat, dan selalu membawa keceriaan di tengah dinamika yang sering keras.
Ironisnya, di saat yang hampir bersamaan, ruang-ruang komunikasi para wartawan justru dipenuhi kabar bahagia, deklarasi SWSI, semangat baru, optimisme yang mengalir di kalangan wartawan senior. Sebuah kontras yang begitu tajam, di satu sisi lahir harapan, di sisi lain, pergi seorang yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan itu.
Begitulah hidup bekerja, tak selalu memberi jeda antara suka dan duka.
Zulmansyah bukan sekadar jabatan. Ia adalah representasi dari dedikasi. Dalam dunia yang sering penuh tekanan, ia memilih tetap berdiri dengan wajah ceria. Dalam ruang yang kerap diwarnai perbedaan, ia hadir dengan ketegaran. Dan dalam perjalanan panjang profesi yang tak mudah, ia menjalaninya dengan sikap yang bersahaja.
















