Meski demikian, Theo menambahkan, Habibie tetap aktif membahas mengenai pemilihan presiden yang masih berlangsung di MPR. “Dibicarakan siapa pengganti. Muncul beberapa nama. Ada Pak Amien Rais dan lain-lain. Habibie menyerahkan kepada Golkar. Habibie termasuk yang setujui Gus Dur (Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid, Red),” imbuh Theo.
Kepemimpinan
Habibie menjadi Presiden pada 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Walau hanya 1,5 tahun menjabat Presiden, banyak capaian dari kepemimpinan Habibie. Theo mengungkap, saat Habibie menggantikan Soeharto pada 21 Mei 1998, inflasi di Indonesia begitu tinggi.
Tak hanya itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 17.000. “Tingkat pertumbuhan ekonomi negatif 15%. Namun, dalam 1,5 tahun Habibie menjadi Presiden, rupiah menjadi Rp 6.700. Kemudian, inflasi turun di bawah 10%, pertumbuhan ekonomi tidak lagi negatif, sudah positif walau masih 2% hingga 3%. Berati, pembangunan ekonomi berhasil,” kata Theo.
Theo menambahkan, pemerintahan Habibie kala itu mengamankan supaya tidak terjadi pendudukan liar atas lahan. “Waktu itu ada tren begitu (pendudukan liar). Kami buat program supaya tak terjadi. Karyawan-karyawan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan lahan-lahan produksi,” ujar Theo.
Theo pun menyebut, pemerintahan Habibiw yang pertama mencetuskan bunga murah kepada mereka yang membeli rumah. Sehingga, meski terjadi krisis, rumah-rumah sedehana tidak dibatasi dan tetap terus diproduksi. “Waktu itu masih tetap mempetahankan kalau memang pada 1997 rumah sederhana lebih dari 100.000 unit. Pada 1998 dan 1999 kita bisa mempertahankan tidak drop terlalu jauh sampai 80.000 unit,” kata Theo.(sumber: beritasatu.com)
















