“Misalnya, langka. Atau, kalau kita cuma punya masker kain satu sedangkan kita ada di ruang publik dan belum bisa pulang untuk mengganti atau mencucinya, berarti ada jeda lebih dari [4 jam] itu pemakaiannya. Itu masih mungkin ditolerir,” kata dia lagi.
Selain soal jeda waktu pemakaian, yang juga perlu diperhatikan adalah pemakaian masker bagi mereka yang memiliki kerentanan seperti penyakit pernapasan.
Karena itu Hermawan menyarankan kelompok rentang sebisa mungkin untuk tetap berada di rumah. Sehingga intensitas pemakaian masker pun lebih kecil.
“Untuk orang-orang dengan faktor risiko pernapasan, memang pemakaian masker ini akan menghambat laju pernapasan–bagaimana dia menghirup oksigen dan melepaskan karbondioksida–sehingga ada potensi-potensi gangguan sesak,” tutur Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) tersebut.
“Untuk itu pada mereka yang ISPA maskernya harus dipilih yang betul-betul berkualitas dan lebih baik banyak waktu di rumah agar tidak sering-sering menggunakan masker,” tambah Hermawan.
Hal lain yang tak kalah penting dan sudah menjadi bagian dari protokol kesehatan individu adalah pastikan lagi kebersihan tangan setiap kali sebelum dan setelah menyentuh masker–baik sebelum memakai atau setelah melepas. Ingat selalu untuk mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun selama 20 detik atau menggunakan cairan pembersih tangan (hand sanitizer).(cnn indonesia)
















