Oleh : Eddy Mulyawan Paremma’rukka
MEDIASINERGI.CO WAJO — Dua tahun sudah Bupati Wajo, H. Amran Mahmud bersama Wakilnya H. Amran, SE
menjalankan tugas sebagai orang nomor satu dan nomor dua di Bumi Lamaddukelleng terhitung sejak dilantik pada tanggal 15 Februari 2019 lalu oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.
Tentu dalam menjalankan amanah, pasangan Bupati dan Wakil Bupati yang bertagline PAMMASE ini memiliki berbagai Prestasi, sekaligus berbagai pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan sesuai visi dan misi serta janji janji politiknya.
Namun, setidaknya, dalam dua tahun pasangan “Duo Amran” ini, telah merubah wajah Kabupaten Wajo.
Tulisan ini dibuat sebagai Refleksi 2 Tahun PAMMASE memimpin Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan di Bumi Lamaddukkeleng dalam perspektif seorang Jurnalis.
Awalnya banyak yang mengkritik penulis menggunakan diksi PAMMASE pada judul tulisan ini.
Mengapa PAMMASE ??? dalam perspektif penulis PAMMASE mengandung tiga makna, PAMMASE sebagai akronim Pak Amran Mahmud-Amran, SE. Bukankah yang memimpin pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan saat ini adalah Pak Amran Mahmud-Amran, SE. Jadi makna diksi PAMMASE pertama bermakna pribadi.
Kedua, PAMMASE sebagai akronim Pemerintahan Amanah Menuju Masyarakat Wajo Maju Mandiri dan Sejahtera. Jadi Makna kedua adalah mewakili visi besar yang diusung “Duo Amran” dalam menjalankan amanah rakyat.
Ketiga, secara etimologi bahasa bugis PAMMASE identik dengan Paccoba (Cobaan), dimana selama dua tahun kepemimpinan “Duo Amran” ini Kabupaten Wajo diterpa Paccoba (Cobaan) yakni pada awal kepemimpinannya dihadapkan pada devisit anggaran yang tentunya berdampak pada pembangunan tahun berjalan. Pada tahun kedua, meski devisit anggaran berhasil diatasi namun lagi-lagi keduanya dihadang pandemi Covid 19 yang melanda dunia.
















