Home / Nasional

Rabu, 2 Februari 2022 - 09:47 WIB

Catatan Kecil Tentang Pak Margiono

Andi Dasmawati bersama Bu Chinta Margiono.

Andi Dasmawati bersama Bu Chinta Margiono.

Andi Dasmawati

MEDIASINERGI.CO JAKARTA — Sebagai istri Sekjen PWI Pusat, saya mendapat kesempatan bertemu dengan Pak Margiono dan istri saat beliau menjabat Ketua Umum PWI Pusat, khususnya di acara besar seperti Hari Pers Nasional. Mulai dari di Batam, Kepulauan Riau pada tahun 2015, HPN Lombok, HPN Padang, HPN Maluku atau acara lain. Hubungan tetap baik bahkan jauh setelah kepengurusan beliau berakhir.
Silaturahmi tetap terjalin karena kebetulan saya akrab dengan Bu Chinta Margiono. Sering kami bertemu untuk urusan perempuan. Bisa di rumahnya di Bogor, di tempat makan, di kedai kopi, atau yang paling sering di Hotel Swissbell Serpong, milik grup perusahaan Rakyat Merdeka yang dipimpin Pak Margiono. Kami sama-sama punya aparteman di belakang hotel dan kebetulan keluarga Pak Margiono kerap menginap apabila ada kegiatan di Jakarta.

Bertahun-tahun dekat dan bertemu di mata saya, Pak Margiono adalah pribadi humoris meskipun agak pendiam. Karena sering mengeluhkan berat badan yang naik, Pak Margiono menyarankan saya untuk ikut yoga bersama istrinya. “Ayo, Bu. Biar selesai olahraga, bisa kulineran lagi.” Selera humor Pak Margiono memang sangat mengesankan. Contohnya ketika memesan makanan.

Suatu saat kami bertiga makan di kawasan Bumi Serpong Damai. Setelah duduk, pelayan pun datang bertanya tentang menu yang diinginkan. Pesanan kami bebek goreng, lalapan, makanan laut, dan sebagainya. Rupanya si pelayan coba menawarkan tambahan lain.
“Tempe goreng, Pak?”
“Iya,” jawab Pak Margiono kalem.
“Tambah tahu, Pak?
“Hmmm,”
“Ayam goreng, Pak?
“Terserah,” kata Pak Margiono dengan cuek, sambil tetap menunduk.
Pelayan dengan wajah kecut tetapi tampak tertawa kecil bergegas pergi. Saya tidak bisa menawan geli melihat situasi seperti itu.
Pernah juga saat asyik-asyiknya menikmati hidangan dengan lahap, Pak Margiono mendadak tertawa.
“Habis ini pasti pada jumpalitan olahraga untuk membakar lemak karena makannya banyak,” sambil melirik ke istrinya yang gemar yoga dan kerap diet ketat agar selalu langsing.
Pertemuan saya dengan Pak Margiono memang tak pernah jauh dari makanan. Entah itu di restoran berpendingin ruangan, di warung kecil ataupun di lesehan pinggir jalan. Kami pernah berempat duduk lesehan di sebuah trotoar, tengah malam menikmati durian di Kota Yogyakarta.

Baca Juga:  Mengenali Angin Fohn, Namanya Berlainan di Berbagai Daerah

Sehabis menikmati beberapa butir durian, beliau bertanya apakah saya membawa sigaret dalam tas?
“Ada dong, Pak,” kata saya. Tak lama kemudian Pak Margiono akan menyulut rokok untuk menikmati udara malam di antara deru lalu lintas, Dia memang hanya sesekali membakar sigaret, bukan tipe pecandu seperti Vladimir Putin. ***
Karena kedekatan dengan istrinya yang cantik, banyak momen-momen panjang kami lalui bersama. Teringat ketika berada di Mataram, ada perhelatan akbar Hari Pers Nasional, kota dipenuhi tamu. Acara resmi diadakan di Pantai Kuta, Lombok Tengah, yang panas. Kebetulan waktu itu makanan belum dibagikan panitia, maka perut terasa lapar.

“Ayo kabur, Pak,” kata Pak Margono ke suami saya. “Banyak orang mencari kita. Capek tangan saya bersalaman sejak tadi,” begitu acara selesai dan Pak Jokowi bersama rombongan meninggalkan arena. Celetukan seperti itu mebuat kami semua tertawa.
Menaiki mobil yang sama, driver yang membawa kami kesulitan mencari tempat makan. Semua restoran penuh. Hampir setengan jam lamanya dalam perjalanan menuju Kota Lombok, barulah bertemu restoran sederhana. Ternyata di sana juga banyak wartawan yang barusan ikut puncak acara HPN. Semua makan dengan lahap karena lapar, maklum jam makan siang.
Di HPN Padang, kami berempat keliling kota mencari oleh-oleh. Kami kemudian mampir di sebuah toko pakaian daerah. Kami ceritanya mau beli mukenah khas Sumbar. Saat asyik memilih, tiba-tiba masuk rombongan IKWI Sumut.
Setelah saling salam, Pak Margiono berkata. “Ayo ambil kain satu-satu, nanti saya yang bayar,” maka belasan ibu-ibu itu pun dengan semangat mencari pakaian kesukaan masing-masing, karena gratis. Ya, Pak Margiono, memang terkenal murah hati, sering memberi dengan spontan.
Dia juga suka makan. Pernah dalam salah satu acara di kota Medan, bersama Bu Chinta, saya, dan Pak Margiono mengitari kota sekadar mencarai makan. Memang tidak mudah. Waktu menghampiri tengah malam karena acara yang digagas Pak Margiono yaitu seminar tentang Ibukota Baru, selesainya malam. Beruntung kami menemukan sebuah warung Padang yang hampir tutup. Pengunjungnya tinggal kami bertiga dan pemiliknya dengan sabar menunggu kami selesai. Untuk hal-hal seperti ini, Pak Margiono memiliki privilege berbeda, Semua orang memandangnya dengan sorot ramah dan bersahabat.

Share :

Baca Juga

Nasional

Menunggu Titah dari Kalteng, Jalan Keluar Jebakan HPM Tinggi Pasir Kuarsa Kepri

Nasional

Ketum PWI Pusat Pimpin Delegasi Indonesia ke General Assembly CAJ di Kuala Lumpur

Nasional

Pekan Kedua April 2027, Lampung Tuan Rumah HPN dan Porwanas

Nasional

Gema Paskah Nasional 2026, Saat Puluhan Ribu Umat dan Tokoh Bangsa Bersatu di Manado

Nasional

Presiden RI Prabowo Subianto Beri Penghormatan Terakhir Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL

Nasional

Menlu Sugiono Ucapkan Belasungkawa atas Gugurnya Prajurit UNIFIL di Lebanon

Jakarta

PWI: Kemerdekaan PERS Bagian dari HAM

Nasional

APKLI Minta Kepala Daerah Moratorium Pemberian Izin Retail Modern