Home / Artikel

Senin, 21 Februari 2022 - 12:40 WIB

Dunia “Berhenti Berputar” Tanpa & Tahu Tempe

Ilham Bintang

Ilham Bintang

Catatan Ilham Bintang

MEDIASINERGI.CO — Maaf, ini bukan rencana “jahat” bikin artikel dengan judul “clickbait” . (Dalam bahasa Indonesia,klik bait, isi dan judul berbeda hanya untuk membuat pembaca penasaran).

Seperti yang ditenggarai dilakukan sebagian media pers di Tanah Air. Yang dituding mantan Dubes RI di Polandia, Peter Frans Gontha, karena media kalap kehilangan pembaca di era disrupsi. Tapi saya tidak akan mengulas itu. Topik sekarang membahas rencana mogok perajin tahu dan tempe.

// Makanan Favorit //

Merespons rencana perajin tahu tempe mogok berjualan tiga hari (21-23), tetiba teringat ungkapan seperti judul di atas, yang empat puluh tahun lalu saya baca menempel di sebuah dinding di jalan arah Cilincing, Jakarta Utara. Tulisan dalam huruf besar dengan warna mencolok aslinya begini :
” Dunia berhenti berputar tanpa oli gardan”. Kata bombastis itu gimmick marketing ala pedagang oli kaki lima. Yang kiosnya menempel persis di bawah tulisan tersebut.
Semacam ” klikbait” ala pedagang oli untuk mencari perhatian. Belum dikenal istilah viral masa itu. Seperti “reality show” ATM kreasi Bank BNI dan Raffi Ahmad yang berhasil viral menyedot perhatian publik sepanjang minggu lalu. Tapi dikecam banyak pihak, lantaran dianggap gimmick marketing itu tidak punya empati di tengah kesulitan masyarakat. ” Biarpun gimmick kalau kelewatan,” umpat netizen yang terganggu.

Baca Juga:  Pelaksanaan Ibadah Ramadhan Tetap Mengutamakan Prokes

//Punya stok Tempe?//

Semalam, sambil menonton siaran televisi yang mengulas rencana mogok perajin tahu tempe, saya bertanya kepada istri.

Apakah punya stok tahu dan tempe?
” Tidak ada,” jawab dia.
Sudah tahu ada mogok?
” Itulah. Saya menyesal tidak beli untuk stok. Padahal, waktu belanja kemarin pedagang menganjurkan beli lebih banyak karena ada rencana perajin mogok tiga hari,” sambung istri.

Aksi mogok perajin adalah akibat kenaikan harga kedelai yang berimbas pada produksi para perajin tahu tempe. Itu yang memicu Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo) berencana mogok produksi tiga hari, mulai hari ini.
Ketua umum Gakoptindo, Aip Syarifudin, mengatakan kepada pers mengkonfirmasi rencana mogok terjadi lantaran naiknya harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu.

Perajin rumahan sehari beli kedelai 20 kilogram, untuk modal dagang. Mereka biasanya beli kedelai Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram. Sekarang alami kenaikan 10-20 %. Tadi pagi, saya mencoba menghubungi Aip Syarifudin soal rencana demo. Siapa tahu batal. Tetapi hingga berita ini turun telpon tidak dijawab, dan chat WhatsApp, tidak disahut oleh Ketua Gakoptindo.

Baca Juga:  Selain Meninjau Pelaksanaan Vaksinasi Massal, Bupati Wajo Juga Sosialisasikan Perpres Nomor 14 Tahun 2021

Sekarang, saya yang merasakan ” dunia berhenti berputar ” tanpa tahu tempe.
Saya penggemar berat makanan itu. Sejak pindah ke Jakarta di usia remaja, tahu tempe menjadi lauk favorit. Coba bayangkan ini: tahu dan tempe digoreng tepung, taburi sedikit kecap dan pasangkan dengan cabe rawit ijo yang baru petik sebagai jodohnya.

Ada kenangan Warung Tegal langganan dekat rumah tinggal dulu yang masih erat menempel dalam benak. Warung itu langganan di masa sekolah dulu. Selain menyediakan cabe rawet ijo, juga meracik sambal khusus, khas warung itu, teman tempe goreng yang maknyusnya masih terbayang hingga sekarang.

Apakah banyak orang di zaman milenial ini masih suka tahu tempe, seperti saya? Tanya saya.

Share :

Baca Juga

Artikel

Dua Satkamling Di Soppeng Disambangi Tim Dit Binmas Polda Sulsel

Advertorial

Dishub Makassar Hadiri FGD Ketiga Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kota Sehat

Artikel

Refleksi Sumpah Pemuda: Musmuliadi Ingatkan Pemerintah Wajo Soal Janji Program Muda Milenial Maradeka

Artikel

Cahaya dari Timur: Refleksi Hari Santri dan Warisan Keilmuan As’adiyah

Artikel

Musmuliadi: Melecehkan Pesantren Sama Saja Merendahkan Akar Moral Bangsa

Artikel

PPENTINGNYÀ PERAN dan FUNGSI MEDIA

Advertorial

Menyulam Harapan di Bumi Lamadukkelleng: Jejak 100 Hari Pemerintahan Andi Rosman–Baso Rakhmanuddin

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi