Sedangkan ditempat yang sama, Kepala Madrasah MTsN 1 Makassar, Zulfikah Nur, M.Pd menjelaskan bahwa madrasah digital itu adalah madrasah yang berbasis digital. Selain itu di madrasah juga terdapat kelas sains, ada 6 kelas riset, ada 6 kelas tahfidz, ada juga kelas skill, olahraga, seni, dan ada juga kelas bilingual bahasa Inggris dan bahasa Arab, kelas informatika dan kelas reguler.
Selain itu, ia mengatakan bahwa, madrasah digital merupakan seluruh layanan berbasis digital, mulai dari layanan digital terpadu, kemudian cyber konseling, perpustakaan digital, laboratorium digital dan pembelajaran siap saji terintegrasi digital.
Awal kami terapkan madrasah digital ini mulai saat kami menjadi kepala madrasah di kabupaten Gowa. Setelah saya di mutasi ke MTsN 1 Makassar, kami mulai bergerak dengan mengubah mindset pembelajaran konvensional ke pembelajaran digital.
“Ini semua berbasis efektif, efisien, mudah, murah dan nyaman,” jelasnya.
Inilah yang perlu dipahami oleh kepala madrasah bahwa kami lakukan itu khaterlex, jadi tidak ada lagi kertas, tinta dan sebagainya.
“Jadi guru mengajar memakai tinta elektronik, kemudian seluruh perangkat pembelajarannya itu tidak lagi di print out, melainkan disajikan dalam bentuk file dan berbasis link,” ungkapnya.
“Alhamdulillah dengan kedatangan teman-teman dari Malang, menambah edukasi dan semangat kami dalam berdigital kembali. Karena kami tau MAN 2 Malang adalah madrasah rujukan di Indonesia, dan kita saling berkolaborasi membangun sebuah kekuatan apa yang menjadi kelemahan di MTsN 1 Makassar menjadi kekuatan untuk mengembangkan ini dengan kelebihan-kelebihan yang ada di MAN 2 Malang,” jelasnya.
“Harapan kami kedepannya, bagaimana seluruh madrasah di seluruh Indonesia mampu beradaptasi di era milenial. Kita berada di era globalisasi abad XXI, ketika madrasah tidak mampu untuk beradaptasi dalam era milenial, maka secara otomatis madrasah akan mengalami ketinggalan,” pungkasnya.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















