MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan khususnya “Madrasah Digital” MAN 2 Malang melakukan Studi Banding ke MTsN 1 dan MAN 2 Makassar, Jum’at 21 Oktober 2022.
Dalam kunjungannya tersebut, turut hadir Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Dr. Muhtar Hazawawi, M.Ag, Kepala MAN 2 Kota Malang, Drs. Mohammad Husnan, M.Pd, Kaur Tata Usaha, Mochamad Arif, S.Ag, Waka Bidang Humas, Ahmad Thohir, M.Pd, M.Ed, Waka Bidang Sarpras, Mujaini, S.Ag, M.Pd.I, Waka Bidang Kesiswaan, Anita Yusianti, M.Pd, Ketua Komite, Prof. Dr. Agus Maimun, M.Pd, Sekretaris Komite, Ainur Rofiq, SE, MM, Ph.D, Bendahara Komite, dr. Nur Kholis Komari, Penguji SPM Komite, Ellya Rohmawati, S.Pd.I dan Ketua P3TIM, Nur Yasin Putra, S.Kom.
Plt Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar, Dr. Muh. Tonang dalam sambutannya mengatakan bahwa tentunya kedatangan saudara-saudara kami dari Kementerian Agama Kota Malang khususnya MAN 2 Malang kami menyambut dengan baik, dan kedatangan mereka untuk melihat secara langsung proses pembelajaran digital yang diterapkan teman-teman di MTsN 1 Makassar.
“Kami merasa bangga dan melihat secara langsung kedatangan teman-teman rombongan dari Malang, serta saling sharing tentang pendidikan yang ada saat ini,” ujar Muh. Tonang.
Lanjut Muh. Tonang menjelaskan, seperti kita ketahui semua bahwa Malang sudah melakukan langkah yang lebih jauh, terutama pengembangan pendidikan khususnya pendidikan madrasah. “Mereka di suport langsung oleh komite, orang tua dan para wali,” katanya.
“Khusus kaitannya dengan pembelajaran digital, mereka ingin melihat secara langsung dan kemungkinan mereka akan menerapkan di Malang,” sambungnya.
Harapan kami dengan pertemuan ini, menjadi perbincangan baru bagi pengembangan pendidikan khususnya pendidikan digital.
“Saya kira kita akan suport untuk bisa dikembangkan dan di share kepada madrasah lainnya di kota Makassar dan Sulsel pada umumnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Dr. Muhtar Hazawawi, M.Ag dalam sambutannya mengatakan tentunya kedatangan kami ke MTsN 1 Makassar kami sangat bangga dan bersyukur karena kami ingin meniru madrasah digital secara langsung. “Kita harus ambil ilmunya dalam kunjungan ini,” ujarnya.
“Oleh karena itu, kami datang bersama rombongan ingin melihat, memotret dan semuanya. Dan Insya Allah akan kami tiru dan jadi inspirasi di kota Malang. Bukan hanya di MAN 2 tapi semuanya,” jelas Muhtar Hazawawi.
Sedangkan ditempat yang sama, Kepala Madrasah MTsN 1 Makassar, Zulfikah Nur, M.Pd menjelaskan bahwa madrasah digital itu adalah madrasah yang berbasis digital. Selain itu di madrasah juga terdapat kelas sains, ada 6 kelas riset, ada 6 kelas tahfidz, ada juga kelas skill, olahraga, seni, dan ada juga kelas bilingual bahasa Inggris dan bahasa Arab, kelas informatika dan kelas reguler.
Selain itu, ia mengatakan bahwa, madrasah digital merupakan seluruh layanan berbasis digital, mulai dari layanan digital terpadu, kemudian cyber konseling, perpustakaan digital, laboratorium digital dan pembelajaran siap saji terintegrasi digital.
Awal kami terapkan madrasah digital ini mulai saat kami menjadi kepala madrasah di kabupaten Gowa. Setelah saya di mutasi ke MTsN 1 Makassar, kami mulai bergerak dengan mengubah mindset pembelajaran konvensional ke pembelajaran digital.
“Ini semua berbasis efektif, efisien, mudah, murah dan nyaman,” jelasnya.
Inilah yang perlu dipahami oleh kepala madrasah bahwa kami lakukan itu khaterlex, jadi tidak ada lagi kertas, tinta dan sebagainya.
“Jadi guru mengajar memakai tinta elektronik, kemudian seluruh perangkat pembelajarannya itu tidak lagi di print out, melainkan disajikan dalam bentuk file dan berbasis link,” ungkapnya.
“Alhamdulillah dengan kedatangan teman-teman dari Malang, menambah edukasi dan semangat kami dalam berdigital kembali. Karena kami tau MAN 2 Malang adalah madrasah rujukan di Indonesia, dan kita saling berkolaborasi membangun sebuah kekuatan apa yang menjadi kelemahan di MTsN 1 Makassar menjadi kekuatan untuk mengembangkan ini dengan kelebihan-kelebihan yang ada di MAN 2 Malang,” jelasnya.
“Harapan kami kedepannya, bagaimana seluruh madrasah di seluruh Indonesia mampu beradaptasi di era milenial. Kita berada di era globalisasi abad XXI, ketika madrasah tidak mampu untuk beradaptasi dalam era milenial, maka secara otomatis madrasah akan mengalami ketinggalan,” pungkasnya.(jk)
Editor: Manaf Rachman











