“Saya mengingatkan kembali bahwa pentingnya hasil pengukuran pertumbuhan balita sebagai dasar upaya pencegahan dan penanganan stunting. Oleh karena itu saya mengajak kepada kita semua untuk terus menerus memantau pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga kita dapat mengetahui status gizi setiap anak dan jika terdapat gangguan pertumbuhan dan perkembangan maka dapat ditangani lebih dini, sehingga diharapkan dari tahun ketahun terjadi penurunan prevalensi stunting serta mencegah munculnya kejadian stunting yang baru di Kota Makassar,” Jelas, kadis yang bergelar Dokter ini.
Ibu kadis menambahkan, kejadian stunting di Kota Makassar berdasarkan e-PPGBM dapat dipengaruhi oleh beberapa determinan diantaranya terdapat anggota keluarga yang merokok ( 60,97%), tidak memiliki JKN ( 35,31%), riwayat ibu hamil KEK (23,34%), Infeksi kecacingan (11,8%), penyakit penyerta (5, 82%), tidak tersedia air bersih (0,96%), Tidak tersedia jamban sehat (2,40%)
Diketahui Berdasarkan Pepres No 72 Tahun 2021 bahwa Strategi Nasional Percepatan penurunan Stunting berupa langkah-langkah dengan Lima Pilardalam rangka pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pencapaian target prevalensi stunting yang diukur pada usia balita.(Sri-Natsir)
Editor: Sudirman
















