Presiden China itu menyebut hal ini terjadi karena berbagai faktor termasuk biaya pendidikan tinggi, upah rendah, dan jam kerja yang sangat panjang serta bersamaan dengan kebijakan COVID-19 dan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi.
“JEPANG”
Krisis populasi di Negeri Sakura ini di depan mata lantaran tingkat perkawinan dan kelahiran di negara itu tergolong terendah sepanjang sejarah. Berdasarkan laporan terbaru, angka pria dan wanita di Jepang yang tidak ingin menikah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sebuah data dari Institut Nasional Kependudukan dan Jaminan sosial menemukan bahwa 17,3 persen pria dan 14,6 persen wanita berusia antara 18 dan 34 tahun di Jepang menyebut mereka tidak berminat menikah. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak kuesioner pertama kali dilakukan pada 1982.
Pada 2021, jumlah bayi yang lahir di Jepang mengalami penurunan 29.231 atau 3,5 persen. Sedangkan untuk jumlah pernikahan turun 24.391 dari 501.116, angka terendah sejak akhir perang dunia kedua.
“SINGAPURA”
Di negara ini, angka kelahiran bayi pada 2021 adalah 1,12. Angka ini lebih rendah dibandingkan angka rata-rata global yakni 2,3. Penyebab terjadinya ‘resesi seks’ di Singapura karena pemerintah mengizinkan para wanita untuk melakukan pembekuan telur. Padahal, awalnya izin ini hanya diberikan kepada wanita dengan kondisi medis tertentu seperti sedang melakukan kemoterapi.
“Kami menyadari bahwa beberapa wanita ingin mempertahankan kesuburannya karena keadaan pribadi mereka. Misal karena tidak dapat menemukan pasangan saat mereka masih muda, tetapi ingin memiliki kesempatan untuk hamil jika menikah nanti,” kata administrasi Perdana Menteri LeeHsienLoong dalam pernyataan, dikutip dari South China Morning Post.(alethea )
Editor: Manaf Rachman
















