Home / Artikel

Selasa, 29 November 2022 - 08:18 WIB

MENJALANI WAKTU

Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun

Waktu harus dimanfaatkan saat dia datang, karena momentum hanya datang sekali. Setelah itu yang ada hanya sesal. Karena kita termasuk orang yang merugi. Sebagaimana difirmankan dalam kitab suci Al Qur’an, surat Al-Asr, Allah Swt bersumpah “Demi masa//sungguh manusia dalam kerugian//kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan menasehati untuk kesabaran//”.

Menggunakan waktu sebaik mungkin, tidak hanya ditujukan pada mereka yang sudah berusia senja—kerap ukurannya adalah yang sudah berusia di atas 60 tahun—tetapi terlebih-lebih baik kalangan muda, yang berada di usia produktif. Terus belajar dan belajar, bukan hanya di bangku kuliah tetapi dengan melihat contoh orang-orang yang berhasil mengelola hidupnya dengan baik. Mengambil kesempatan yang ada dan pandai memilah mana yang diprioritaskan, mana yang boleh ditinggalkan. Kalau ragu, tanya pada orang yang berpengalaman.

Aktor Tom Cruise mengatakan pentingnya waktu. Dia bangun di waktu subuh, dan baru tidur saat merasa pekerjaan hari itu sudah dianggap selesai. Orang-orang sukses tidak pernah membiarkan waktunya kosong, walau sesaat. Kalaupun ada saat dia tidak “memetik” uang, bisa jadi hari itu dia menangguk pahala karena berbagi pengalaman, menunjukkan tips untuk belajar disiplin dan mengasah ketrampilan, atau sekadar memberi inspirasi.

Maka kita mungkin keheranan kalau ada orang yang suka jam karet, menunda-nunda pekerjaan menjelang deadline, datang terlambat karena alasan macet atau ketinggalan kereta. Sebab ada pepatah, burung yang berangkat pagi-pagi untuk mencari makanan bagi anak-anaknya pasti selalu membawa hasil. Jadi, tidak ada alasan untuk terlambat. Kalau tahu potensi macet, yang berangkat lebih pagi. Saya termasuk orang yang benci pada keterlambatan karena selalu ingat nasehat dosen saat kuliah. “Saya lebih baik dipotong leher kalau sampai terlambat,” kata beliau, melihat ada teman yang bersantai datang di mata kuliahnya.

Baca Juga:  Kredibilitas Wartawan

Tepat waktu bagi saya harga mati, selain tepat janji. Khusus bagi wartawan waktu adalah kunci, dan tepat waktu adalah jati diri. Kalau tidak mampu silakan ganti profesi, karena itu mencederai martabat profesi. Saya beruntung dididik untuk selalu disiplin deadline, apapun taruhannya. Dan berupaya teguh memegangnya, meski sudah pensiun bekerja di suatu media, karena itu juga bermanfaat dalam menjalani hidup ataupun dalam berorganisasi. ***
Laporan digital Indonesia 2022 menunjukkan media sosial Tiktok mengalami peningkatan luar biasa dibanding pesaingnya. Jika pada tahun 2021 hanya 38,7 % tahun ini melonjak ke 63,1 %. Dia naik ke peringkat keempat setelah Whatsapp (88,7%), Instagram (84,8%), dan Facebook (81,3%). Tiktok naik bersama Whatsapp, sedangkan Instagram dan Facebook turun, dan mengalahkan Telegram (62,81%) dan Twitter (58,3%).

Hasil penelitian yang dilakukan Dewan Pers bersama Universitas Prof Dr Moestopo pada tahun 2021 menempatkan Tiktok di posisi ke-8 (5,96%) ketika ditanya, tempat mengkonsumsi berita berdasarkan jenis media. Di bawah YouTube, Whatsapp, Instagram, Media Online, Televisi, Facebook, dan Twitter. Padahal di tahun 2020, dalam penelitian yang sama, Tiktok belum masuk daftar. Patut diduga, kalau penelitian dilakukan kembali (sayangnya tidak dilanjutkan), posisi Tiktok akan meningkat.

Kalau suka melihat (walau sebentar),Tiktok, tentu Anda akan memaklumi mengapa website ini popular. Dia menyajikan apa saja. Yang serius atau yang santai, yang unik, aneh, cara memasak dan membuat kue, semua berita terbaru, dan termasuk pesan-pesan kemanusiaan yang menyentuh hati. Dan selalu pula muncul tokoh baru, dari semula bukan siapa-siapa menjadi orang yang ditonton ratusan ribu atau jutaan orang. Contohnya ya orang Indonesia pegawai toko makanan cepat saji di Jerman, yang sampai didatangi tokoh-tokoh untuk “numpang ngetop” he..he..he.

Baca Juga:  Pendataan Memang Bukan Pendaftaran

Dijamin, kalaupun menonton 24 jam, Anda tidak akan bosan berselancar di Tiktok. Ada yang bermanfaat tentu saja, tetapi mungkin lebih banyak yang sekadar untuk menghibur diri dan buang-buang waktu. Yang positif tentu, cerita tentang orang baik (Samaritan) yang membantu kaum dhuafa, lembaga-lembaga kemanusiaan yang membutuhkan uluran tangan, pesan-pesan religious, tata cara agar doa cepat terkabul, dosa-dosa yang tidak termaafkan, tips agar tubuh sehat, mengurangi berat badan, manfaat berbagai tanaman herbal, dsb, dsb.
Saya pun kerap membuka media sosial, yang penting pandai mengatur waktu, dan memilih yang kontennya memberi manfaat.

Medsos itu ibarat pisau bermata dua, kalau digunakan dengan baik maka dia memberi keuntungan, setidak-tidaknya nilai tambah bagi hidup. Sementara kalau kita malah menjadi budak medsos dan seperti tidak mampu melepaskannya sehingga setiap menit tangan gatal kalau tidak membukanya, tentu itu tidak baik dan harus diubah. Kita yang mengatur, bukan diatur. Sebab kita tidak mau menjadi orang yang merugi, melewatkan waktu dengan hal-hal yang tidak perlu.

Semoga kita termasuk orang yang bijak menjalani waktu, karena dia tidak akan kembali. Sebesar apapun sesal, dia telah pergi.(***)

Share :

Baca Juga

Artikel

Dua Satkamling Di Soppeng Disambangi Tim Dit Binmas Polda Sulsel

Advertorial

Dishub Makassar Hadiri FGD Ketiga Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kota Sehat

Artikel

Refleksi Sumpah Pemuda: Musmuliadi Ingatkan Pemerintah Wajo Soal Janji Program Muda Milenial Maradeka

Artikel

Cahaya dari Timur: Refleksi Hari Santri dan Warisan Keilmuan As’adiyah

Artikel

Musmuliadi: Melecehkan Pesantren Sama Saja Merendahkan Akar Moral Bangsa

Artikel

PPENTINGNYÀ PERAN dan FUNGSI MEDIA

Advertorial

Menyulam Harapan di Bumi Lamadukkelleng: Jejak 100 Hari Pemerintahan Andi Rosman–Baso Rakhmanuddin

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi