Oleh Nafiysul Qodar
MEDIASINERGI.CO JEDDAH — Untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia memberangkatkan jemaah haji lanjut usia (lansia) dalam jumlah besar. Jumlah jemaah haji berusia 65 tahun ke atas ini mencapai sekira 67.000 orang atau 30 persen dari 229.000 total kuota jemaah yang diberangkatkan tahun 2023.
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI mencanangkan tagline “Haji Ramah Lansia” pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Sejumlah ikhtiar dilakukan dalam rangka mewujudkan upaya optimalisasi layanan kepada seluruh jemaah haji, terutama mereka yang masuk kategori lansia.
Organisasi kesehatan dunia atau WHO mendefinisikan lansia sebagai orang dengan usia 60 tahun ke atas. Namun, Kemenag menetapkan prioritas lansia tahun ini adalah jemaah dengan usia 65 tahun ke atas.
“Kami sejak awal perencanaan, telah melibatkan ahli geriatri dari Universitas Indonesia untuk merumuskan konsep layanan, prosedur operasional, sekaligus melakukan pemantauan dan pengawasan kesehatan jamaah haji lansia saat operasional,” ujar Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Subhan Cholid di Makkah.
Pedoman dari ahli geriatri, lanjut Subhan, ikut dijadikan materi dalam proses manasik. Kemenag juga telah menyusun buku pedoman Manasik Haji Ramah Lansia.
“Penguatan layanan ramah lansia ini kita sudah sosialisasikan sejak dari tanah air, terutama melalui proses manasik haji jemaah, baik di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan maupun Kantor Kemenag Kabupaten/Kota,” sebutnya.
Proses manasik bagi jemaah haji yang berada di Pulau Jawa dilakukan delapan kali. Sementara manasik haji di luar Pulau Jawa dilakukan 10 kali. Komposisinya, dua kali dilakukan di Kankemenag Kabupaten/Kota, sisanya dilakukan di KUA.
Upaya ketiga yang dilakukan dalam mewujudkan haji ramah lansia adalah menyiapkan sarana transportasi, utamanya bus shawalat yang mengantar jemaah haji dari hotel ke Masjidil Haram pergi-pulang. Bus-bus tersebut mudah diakses dan ramah lansia.
PPIH tahun ini telah menyiapkan 450 armada untuk layanan Bus Sholawat. Ada tiga terminal pemberhentian, yaitu Ajyad, Mahbas Jin, dan Syib Amir. Terminal Mahbas Jin dikelola oleh otoritas Arab Saudi dan berlaku untuk semua negara. Sementara pada terminal Mahbas Jin dan Syib Amir, PPIH dapat menyiapkan sekaligus mengelola sendiri armadanya.
Karena itu, disiapkan juga bus ramah lansia pada rute terminal Ajyad (Misfalah) dan Syib Amir (Jarwal, Raudhah, dan Syisah).
“Alhamdulillah, semua rute di Syib Amir dan Ajyad sudah tersedia bus ramah lansia. Adapun rute terminal Mahbas Jin, ini merupakan jalur internasional. Bus pada jalur ini digunakan juga secara bersama-sama oleh jemaah dari berbagai negara,” jelasnya.
“Ada sekitar 200 personel yang ditugaskan untuk memberikan layanan kepada jemaah di tiga terminal dan halte-halte terdekat hotel mereka,” lanjutnya.
Upaya keempat dalam mewujudkan haji ramah lansia adalah menyediakan ruang tunggu khusus dan menyusun skema penempatan jemaah lansia di hotel. PPIH telah menyusun prosedur pelayanan di hotel jemaah haji, antara lain menyiapkan lobby dan lift prioritas lansia. Sejumlah stiker yang berisi informasi seputar lansia juga ditempatkan pada banyak titik di hotel jemaah.
Wujudkan Haji Ramah Lansia
Kelima, upaya yang dilakukan dalam mewujudkan haji ramah lansia adalah mengurangi kegiatan seremonial di embarkasi. Hal ini penting dilakukan agar jemaah tidak kelelahan oleh kegiatan yang semata bersifat upacara.
















