Begitu juga siapa yang menemukan pejabat yang flexing sehingga berlanjut pada pemeriksaan harta pejabat yang bersangkutan. Pers kita, kata Ilham, masih sering terkendala oleh mekanisme verifikasi atau cek dan ricek.
“Memang ada kelemahan dalam prinsip kerja jurnalisme warga. Mereka kadang tidak disiplin verifikasi. Sudah viral saja. Kita juga tidak bisa ikuti prinsip kerja itu. Tapi semangat dan militansi mereka itu menyadarkan pers yang mungkin ada yang sudah berada di zona nyaman agar terusik untuk kembali ke medan pertempuran,”urai Ilham.
Menurut Ilham, peran pers sebagai pilar demokrasi harus bisa diandalkan. Karena menurutnya, meminjam istilah Rocky Gerung, penyimpangan sudah makin sempurna. Menjadi domain pers untuk tidak berhenti mengkritisi. Karena sebuah penyimpangan akan melahirkan penyimpangan lain. Betapapun ada upaya untuk melegitimasi itu.
Ilham menyebut, kita sekarang berhadapan dengan dua kutub, yaitu etika dan hukum. Satu pihak yaitu aktivis pro demokrasi menganggap etika diatas hukum. Sedangkan penegak hukum utamanya para politikus menganggap hukum sebagai panglima tertinggi.
“Medan yang kita hadapi ini menarik sekali. Akan diuji yang mana gabah akan terbang dan yang beras akan tinggal,”tegas Ilham.
Ilham mengurai tantangan paling berat pers adalah memahami posisinya. Kemudian mempelajari karakter disrupsi media. Ini tantangannya hampir sama dengan tantangan mengurusi diri sendiri dengan mengawasi pemerintahan.
“Karena kita masih belajar model bisnisnya media digital itu. Sehingga konsentrasi kita terpecah. Antara mau menyelamatkan diri kita yang sudah pakai baju pelampung dengan tingkah para politisi yang tidak Islami. Ini idiom yang pas karena saya khan bicara di radio Islam,”ujar Ilham.
Sebagai penutup, Ilham Bintang memberi pesan pada wartawan muda untuk menjadi jurnalis yang baik. Yaitu belajar pada filosofi puasa. Menurutnya, jangankan yang haram, yang halal saja ada waktu tertentu yang diharamkan untuk dinikmati. Ajaran Islam ini bahkan sudah jadi rujukan dunia medis. Ternyata manusia bisa bertahan 14 jam tanpa makan dan minum.
Belaja saja dari pengalaman berpuasa itu. Kita ternyata mampu lapar. Mampu mengendalikan diri.Pegang pengalaman menahan hawa nafsu itu. . Jadi kalau ada yang tergoda jadi wartawan yang dibayar, jadi corong pemerintah dll, berpeganglah pada filosofi puasa ini.
“Kita nggak mati kalau nggak makan dan minum. Nanti setelah adzan maghrib baru buka puasa. Kita makan hanya yang menjadi rezeki kita. Nikmat banget itu,”pungkas Ilham Bintang.?? (***)
















