Kongkalikong Dengan Pegawai UIN
Pada bulan September 2024, tersangka ‘ASS’ bertemu dengan dengan ‘AI’ yang merupakan Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Keduanya pun membeli mesin cetak offset untuk membuat uang palsu di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar.
“Jadi bulan September 2024, mereka berkomunikasi dengan ‘AI’ Kepala Perpustakaan UIN Alauddin Makassar untuk mengangkut peralatan. Lalu membuat uang palsu di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar,” sebutnya.
Kapolda Sulsel menyebut, tersangka sempat membakar uang palsu sebanyak Rp40 juta karena kondisi rusak. Pada bulan November 2024, tersangka kembali mencetak uang palsu sebesar Rp150 juta.
“Ada juga penyerahan uang palsu sebesar Rp250 juta. Dan yang kemarin sebelum ditangkap menyerahkan uang palsu Rp200 juta,” urainya.
Mantan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel ini mengatakan, para tersangka sempat menghentikan produksi karena mulai tercium oleh kepolisian pada akhir bulan November 2024. Lalu tersangka ‘AI’ kembali mencetak uang palsu di Perpustakaan UIN Alauddin Makassar dan akhirnya terbongkar.
“Mereka menghentikan produksi karena ada informasi bahwa polisi melakukan penyelidikan di akhir November 2024,” tuturnya.
Sementara Kapolres Gowa, AKBP Reonald Simanjuntak menjelaskan, kronologi pengungkapan berawal dari produksi uang palsu di Jalan Sunu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Karena membutuhkan mesin yang lebih besar, akhirnya tersangka ‘ASS’ memesan mesin cetak offset.
“Tadinya mereka menggunakan alat yang lebih kecil, alatnya sudah kita sita. Mereka memesan alat yang lebih besar, yaitu alat cetak offset senilai Rp600 juta,” ujarnya.
Mesin cetak offset tersebut dibeli d Surabaya, namun dipesan di China. Setelah mesin cetak tersebut tiba, ‘ASS’ berkomunikasi dengan ‘AI’.
“Nah, alat itu lalu dimasukkan oleh salah satu tersangka ‘AI’ ke dalam salah satu kampus di Kabupaten Gowa, menggunakan gedung salah satunya perpustakaan tanpa sepengetahuan pihak kampus,” katanya.
Lanjut Kapolres Gowa menambahkan, mesin cetak tersebut dimasukkan di malam hari. Alat diangkat ke dalam perpustakaan dengan menggunakan forklift.
“Kami mencoba rekonstruksikan dengan 25 personil Polri dan tidak ada yang mampu mengangkat mesin itu. Jadi dia menggunakan forklift untuk memasukkan alat itu,” ungkapnya.
Dengan adanya mesin cetak tersebut, ‘AI’ bersama ‘MN’ mulai mencetak uang palsu di salah satu ruangan lantai 1 Perpustakaan UIN Alauddin Makassar di awal bulan September 2024.
“Jadi begitulah ceritanya di awal bulan September 2024, 2 TKP mulai beroperasi tindak pidana (produksi uang palsu),” pungkasnya.(Tim-jk)
Editor: Manaf Rachman
















