Anwar juga menyatakan bahwa Malaysia mendukung penuh kepemimpinan Presiden Prabowo di D-8 pada 2025 dan siap bekerja sama erat dengan Indonesia untuk menjadikan organisasi tersebut lebih dinamis dan inklusif. “Sebagai negara serumpun, Malaysia akan bersama Indonesia mengangkat suara negara-negara berkembang,” tutup Anwar.
Dalam pidatonya di KTT D-8, Presiden Prabowo menyoroti minimnya perhatian negara-negara Islam terhadap nasib Palestina. Ia menyebut bahwa hak asasi manusia kerap kali tidak berlaku untuk negara-negara Muslim.
“Hak asasi bukan untuk orang Muslim. Ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan,” ujar Prabowo dalam siaran pers Sekretariat Presiden, Jumat (20/12/2024).
Hendry Ch Bangun menilai bahwa apa yang disampaikan Presiden Prabowo adalah fakta yang tak terbantahkan. Ia juga mengapresiasi dukungan Malaysia yang menunjukkan keselarasan posisi politik dengan Indonesia.
“Sayangnya, banyak negara di Timur Tengah diam terhadap genosida di Palestina. Sebaliknya, Indonesia, Turki, dan Malaysia justru lebih peduli di kancah internasional,” jelas Hendry.
Hendry berharap ke depan Indonesia dan Malaysia dapat bahu-membahu mendorong negara-negara mayoritas Muslim untuk lebih berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan umat Islam dunia. “Peran media juga sangat penting dalam menyuarakan politik luar negeri Indonesia yang, meski nonblok, tetap berjuang untuk agama Islam,” tutupnya.(r)
















