Sementara itu, Prof. Dr. Nurhidayat M. Said membahas strategi dakwah yang sesuai dengan karakteristik generasi muda, khususnya Generasi Z yang lebih aktif di dunia digital.
Ia mengawali paparannya dengan menyoroti tantangan dakwah di kota megapolitan seperti Makassar, termasuk kendala lalu lintas yang tidak terduga. Menurutnya, para mubaligh perlu memperhitungkan faktor-faktor ini agar dakwah lebih efektif, terutama menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan.
Terkait dakwah di media sosial, ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat 4,5 miliar pengguna internet aktif di dunia, menjadikan media digital sebagai sarana dakwah yang sangat potensial.
“Generasi Z adalah generasi yang tidak bisa duduk lama mendengarkan ceramah. Mereka lebih tertarik pada konten singkat, padat, dan menarik. Oleh karena itu, para dai harus mampu memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menyebarkan dakwah,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mubaligh masa kini perlu melek teknologi, termasuk dalam menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menyusun konten dakwah yang lebih menarik.
“Bagi generasi kolonial, ya sudahlah, sekarang eranya sudah berubah. Jika ingin dakwah tetap relevan, kita harus beradaptasi. Penyampaian dakwah tidak lagi bisa hanya dalam bentuk ceramah panjang, tapi harus lebih visual dan interaktif,” jelasnya.
Menurutnya, idealnya durasi dakwah digital tidak lebih dari 20 menit agar tetap menarik bagi generasi muda.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama serta pemberian suvenir kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam kegiatan ini.
Dengan adanya pembinaan mubaligh seperti ini, diharapkan para dai semakin terampil dalam menyampaikan pesan dakwah yang relevan, efektif, dan diterima oleh masyarakat luas, terutama generasi muda yang hidup di era digital (sdn)
















