Bukan pidato panjang yang ia bawa, melainkan doa yang lirih dan tulus: agar setiap langkah suci para jemaah terjaga, ibadah mereka diterima, dan mereka pulang membawa kemuliaan sebagai haji yang mabrur.
Dalam debu jalan dan suara mesin yang menjauh, terselip rindu dari tanah asal, yang akan menyambut kembali dengan pelukan saat mereka kembali—lebih bersih, lebih lapang, lebih dekat dengan Tuhan. SALAMA’KI TO PADA SALAMA.(*)
















