“AG KH Muhammad As’ad bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga pembaharu. Beliau membangunkan kesadaran umat bahwa belajar adalah ibadah dan berjuang adalah pengabdian. Dari tangan beliau lahir ribuan santri yang kemudian menjadi guru, dai, dan pemimpin masyarakat,” jelas Musmuliadi.
Menurutnya, nilai keikhlasan dan penghormatan terhadap guru yang diwariskan AG As’ad menjadi fondasi moral santri hingga kini. “Kami diajarkan bahwa menghormati guru dan menempatkan ilmu di atas kepentingan pribadi adalah bentuk tertinggi dari adab,” tambahnya.
Menjelang Hari Santri Nasional 22 Oktober, Musmuliadi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai ajang refleksi. “Hari Santri bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa perjuangan bangsa lahir dari keikhlasan para santri dan guru-guru mereka,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pepatah Bugis yang sarat makna:
“Namoni coppo bolana Gurutta dicobi-cobi, madoraka toni,”
yang berarti bahkan jika hanya atap rumah guru yang dijadikan bahan olok-olok, itu sudah dianggap sebagai bentuk kedurhakaan.
“Ungkapan itu mengajarkan bahwa bagi orang Bugis, menghormati guru sama artinya menjaga kehormatan diri. Jika kehormatan itu dilanggar, berarti kita sedang merendahkan nilai-nilai yang diwariskan oleh para ulama,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Musmuliadi mengajak media untuk memahami pesantren sebagaimana diajarkan para ulama terdahulu, dengan hati yang bersih dan niat mencari keberkahan.
“Pesantren bukan bahan hiburan, tapi sumber keteladanan. Jika media mau memahami pesantren dengan pandangan yang benar, mereka akan menemukan kekayaan nilai yang luar biasa: tentang ilmu, keikhlasan, dan penghormatan terhadap guru. Itulah akar moral bangsa yang tidak boleh dilecehkan,” pungkasnya.(*)
















