“Saya berharap Sengkang Silk Fashion Carnaval tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tapi juga ruang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya kita,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberhasilan ini terasa semakin istimewa karena staf Sekretariat DPRD Wajo juga meraih juara harapan tiga. Bagi Ismirar, kebersamaan dalam karya dan semangat kolektif jauh lebih berharga daripada trofi di tangan.
“Dengan cara yang kreatif dan relevan, kita bisa mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi masa kini. Dengan begitu, kita membangun jembatan antara tradisi dan inovasi,” ucapnya, menatap para peserta yang masih sibuk berfoto di tepi panggung.
Sengkang malam itu tak hanya diselimuti cahaya lampu dan gemerincing kain sutera. Di balik hiruk pikuk festival, ada denyut kebanggaan yang merambat pelan di dada setiap warga Wajo. Mereka tahu, sutera bukan sekadar kain—ia adalah simbol ketekunan, warisan tangan-tangan halus pengrajin, dan kebanggaan yang menenun identitas mereka.
Dan dari atas panggung karnaval itu, Andi Ismirar Sentosa menegaskan satu hal sederhana: bahwa mencintai budaya sendiri adalah bentuk paling elegan dari kemajuan.(eddy)
















