Workshop ini sejalan dengan Visi Putrajaya APEC 2040 dan Rencana Strategis APEC Health Working Group (HWG) 2021-2025, yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia kesehatan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benyamin Paulus Octavianus, dalam sambutannya pada pembukaan workshop menegaskan pentingnya investasi berkelanjutan pada tenaga kesehatan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia di masa depan.
“Kesehatan anak merupakan landasan pengembangan sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, investasi dalam kapasitas tenaga kesehatan melalui pendidikan,” katanya.
“Maka pelatihan berkelanjutan, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan kesetaraan layanan kesehatan anak,” sambung Benyamin.
Ia menyampaikan, kesehatan anak hingga kini masih menjadi tantangan di sejumlah ekonomi berkembang anggota APEC, termasuk Indonesia.
Lanjut dia, perbedaan capaian kesehatan anak antarekonomi masih cukup lebar dan memerlukan penanganan bersama yang terintegrasi.
Selain itu, ia menjelaskan berdasarkan data World Population Review, angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) di beberapa ekonomi maju seperti Singapura dan Hong Kong berada pada kisaran 1,5-6,2 per 1.000 kelahiran hidup.
Sementara di Indonesia tercatat 18,9 per 1.000 kelahiran hidup, dan Papua Nugini mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup.
Perbedaan tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas hidup anak, tetapi juga berpengaruh terhadap pembangunan sosial dan ekonomi jangka panjang.
“Anak yang sehat akan tumbuh menjadi generasi yang produktif serta mampu mengurangi beban pembiayaan kesehatan di masa depan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, melalui workshop ini, ekonomi APEC didorong untuk saling berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan kesehatan anak, khususnya dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan pelayanan kesehatan sejak usia dini.
Fokus utama diarahkan pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan, terutama perawat, baik di tingkat komunitas, pelayanan kesehatan primer, maupun rumah sakit rujukan.
Workshop yang berlangsung selama tiga hari, 20-22 Januari 2026, membahas berbagai strategi pengelolaan kesehatan anak yang efektif dan berbasis bukti.
Termasuk penerapan Manajemen Terpadu Penyakit Anak (IMCI), promosi kesehatan usia dini, serta penguatan keterlibatan masyarakat.
“Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu layanan kesehatan, menekan biaya kesehatan jangka panjang, dan memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional,” tuturnya.
Kegiatan ini diikuti oleh sembilan dari 21 ekonomi anggota APEC, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Jepang, Malaysia, Meksiko, Filipina, Chinese Taipei, Thailand, dan Vietnam.
Rangkaian kegiatan workshop meliputi tujuh sesi pleno, diskusi kelompok terfokus (focus group discussion/FGD), sesi berbagi praktik terbaik antarekonomi, hingga perumusan rekomendasi bersama.
Workshop ini menghadirkan pembicara utama dari Kementerian Kesehatan RI, serta narasumber dari berbagai organisasi internasional dan institusi akademik, antara lain UNICEF, WHO Western Pacific Region, Save the Children, UNFPA, Kolegium Kesehatan Anak, Toyama University, serta para akademisi dan pakar kesehatan anak.
Melalui kolaborasi lintas ekonomi ini, Indonesia berharap dapat mempercepat peningkatan derajat kesehatan anak, memperkecil kesenjangan antarekonomi, serta berkontribusi nyata dalam mewujudkan generasi Asia Pasifik yang lebih sehat dan berdaya saing.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















