Laporan Eddy Mulyawan Paremma’rukka
MEDIASINERGI.CO WAJO – Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk membaca arah, tetapi belum tentu cukup untuk menilai hasil akhir. Bagi duet Andi Rosman dan Baso Rahmanuddin, 12 bulan pertama memimpin Kabupaten Wajo menjadi fase konsolidasi: merapikan fiskal, membenahi infrastruktur, serta memperkuat layanan dasar. Di atas semua itu, ada satu janji besar yang menjadi payung kebijakan Wajo Maradeka.
Visi tersebut—Maju, Religius, Bermartabat, Terdepan, dan Berkeadilan dirancang bukan sekadar sebagai slogan, melainkan sebagai kerangka pembangunan lima tahunan. Tahun pertama menjadi momentum pembuktian awal: sejauh mana arah itu mulai diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret?
Konsolidasi Fiskal sebagai Titik Awal
Kebijakan paling strategis yang ditempuh adalah pengetatan anggaran. Pemerintah Kabupaten Wajo bersama DPRD menyepakati koreksi target pendapatan APBD 2026 menjadi Rp1,359 triliun. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan belanja dengan kapasitas riil daerah sekaligus menekan potensi pemborosan.
Efisiensi menjadi kata kunci.
Belanja yang dinilai kurang produktif dipangkas, sementara belanja modal khususnya infrastruktur jalan, jaringan, dan irigasi diprioritaskan. Di tengah tingginya ketergantungan pada dana transfer pusat, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya membangun kemandirian fiskal sekaligus memperkuat tata kelola pemerintahan yang lebih akuntabel. Namun, konsolidasi fiskal selalu memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia memperkuat disiplin anggaran. Di sisi lain, publik menuntut agar efisiensi tidak berujung pada perlambatan pelayanan.

Infrastruktur: Dampak yang Terlihat
Dampak paling nyata terasa pada sektor infrastruktur. Rekonstruksi jalan penghubung antarwilayah mulai dikerjakan melalui APBD. Di Kota Sengkang, Kecamatan Tempe, sejumlah ruas yang sebelumnya rusak seperti Jalan Serikaya, Cendana, hingga Gunung Patirosompe diperbaiki dengan alokasi sekitar Rp7,7 miliar pada 2025.
Perbaikan ini bukan sekadar soal aspal. Mobilitas warga menjadi lebih lancar, risiko kecelakaan berkurang, dan aktivitas ekonomi bergerak lebih stabil. Dalam konteks visi “Maju”, pembangunan infrastruktur menjadi fondasi yang konkret dan mudah diukur.
Tantangannya adalah memastikan pembangunan tidak terpusat di wilayah perkotaan saja. Pemerataan hingga kecamatan pinggiran akan menjadi indikator sejauh mana semangat “Berkeadilan” benar-benar dijalankan.
Pertanian: Prestasi dan Ujian Keberlanjutan
Sebagai daerah agraris, Wajo menempatkan pertanian sebagai sektor unggulan. Tahun ini, kabupaten tersebut mendapat apresiasi dari Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu daerah penghasil beras tertinggi di Indonesia, dengan posisi kedelapan nasional.
















