MEDIASINERGI.CO
WAJO – Di sebuah sudut sederhana di Kabupaten Wajo, suara alat tenun berdetak pelan. Bunyinya mungkin tak pernah menjadi sorotan, tetapi dari sanalah lahir kisah yang diam-diam menguatkan: kisah tentang ketekunan, cinta pada budaya, dan mimpi yang berani melangkah lebih jauh.
Namanya Masniati. Sehari-hari, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga, istri dari seorang prajurit. Namun di balik peran itu, tersimpan keteguhan luar biasa. Baginya, menenun bukan sekadar aktivitas mengisi waktu—melainkan cara menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Di tangannya, benang-benang halus menjelma menjadi kain tenun sutera khas Sengkang yang sarat makna. Setiap motif bukan sekadar hiasan, tetapi cerita. Ada nilai kehidupan, jejak sejarah, hingga pesan moral masyarakat Bugis yang ia rawat dengan penuh kesabaran.
















