Home / Feature

Senin, 13 April 2026 - 10:42 WIB

RESIKO PUNYA PRESIDEN MANTAN JENDERAL MILITER

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa (Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, Executive Director HIAWATHA Institute).

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa (Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, Executive Director HIAWATHA Institute).

Separuh Hidupnya Terbiasa dengan Desingan PELURU dan Dentuman BOM yang Tidak Pernah Ditakutinya

MEDIASINERGI.CO

Ada satu kenyataan yang sering luput dibaca publik secara jernih, latar belakang seorang pemimpin bukan sekadar riwayat hidup, melainkan fondasi psikologis dalam mengambil keputusan.

Ketika sebuah bangsa dipimpin oleh mantan jenderal militer, sesungguhnya ia sedang dipimpin oleh seseorang yang telah ditempa dalam situasi ekstrem, dimana hidup dan mati bukan teori, melainkan pengalaman nyata.

Seorang jenderal tidak dibentuk di ruang seminar. Ia dibentuk di medan operasi. Ia terbiasa mengambil keputusan dalam hitungan detik, bukan dalam diskusi panjang penuh kompromi.
Ia dididik untuk menghadapi ancaman, bukan menghindarinya.

Maka jangan heran jika ketika menghadapi kritik keras, tekanan politik, bahkan ancaman makar, responsnya tidak selalu seperti politisi sipil yang penuh kalkulasi retoris.

Bagi seorang mantan jenderal, tekanan adalah bagian dari rutinitas, bukan sesuatu yang menggetarkan nyali.

Di sinilah letak “resiko” yang sesungguhnya.
Bukan berarti negatif, tetapi berbeda.
Pemimpin dengan latar militer cenderung memiliki ketegasan tinggi, keberanian mengambil risiko, dan daya tahan terhadap tekanan yang luar biasa. Namun, di sisi lain, pendekatan yang terlalu tegas bisa dibaca sebagai keras. Keputusan cepat bisa dianggap kurang dialogis. Dan ketidaktakutan terhadap ancaman bisa ditafsirkan sebagai ketidakpedulian terhadap kritik.

Padahal, dalam kacamata seorang jenderal, kritik yang tidak berbasis ancaman nyata sering kali hanya dianggap “noise”, gangguan kecil yang tidak mengubah arah strategi besar. Ini berbeda dengan politisi sipil yang justru menjadikan kritik sebagai bahan utama dalam meramu citra dan konsensus.

Lebih jauh lagi, pengalaman panjang menghadapi konflik membuat seorang mantan jenderal memiliki ambang batas ketakutan yang sangat tinggi. Ancaman retorika, demonstrasi, bahkan tekanan politik, tidak akan mudah menggoyahkan mentalitas yang telah terbiasa menghadapi peluru dan ledakan bom.

Dalam logika militer, ancaman harus nyata, terukur, dan berdampak langsung, bukan sekadar opini atau narasi.
Namun di titik inilah publik perlu cerdas membaca.
Ketidaktakutan bukan berarti kebal terhadap kesalahan. Ketegasan bukan berarti selalu benar. Dan keberanian bukan berarti tanpa konsekuensi. Justru karena seorang mantan jenderal memiliki keberanian tinggi, maka kontrol publik menjadi semakin penting agar kekuatan itu tetap berada dalam koridor demokrasi.

Bangsa ini tidak hanya butuh pemimpin yang berani, tetapi juga pemimpin yang mampu mendengar. Tidak hanya kuat menghadapi tekanan, tetapi juga bijak dalam menyerap aspirasi. Sebab negara bukan medan perang, dan rakyat bukan pasukan yang harus selalu tunduk tanpa ruang dialog.

Maka memiliki presiden mantan jenderal adalah dua sisi mata uang.
Di satu sisi, ada ketegasan, keberanian, dan stabilitas dalam menghadapi ancaman nyata. Di sisi lain, ada potensi kekakuan, resistensi terhadap kritik, dan pendekatan yang kurang lentur terhadap dinamika sipil.

Akhirnya, yang menentukan bukan latar belakangnya semata, tetapi bagaimana ia menyeimbangkan dirinya, antara naluri militer dan kebijaksanaan sipil, antara keberanian dan kerendahan hati, antara kekuasaan dan tanggung jawab.

Karena dalam demokrasi, bahkan pemimpin yang tidak takut peluru pun tetap harus belajar mendengar suara rakyat. (Benz Jono Hartono)

Ditulis oleh Asmarani Harma

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Share :