Lebih jauh, Achi menegaskan kehadiran LONTARA+ juga menjadi solusi atas berbagai kendala teknis yang pernah terjadi pada pelaksanaan sebelumnya, seperti gangguan server akibat tingginya akses secara bersamaan.
Tahun ini pihaknya sudah mengantisipasi, dimana masing-masing jenjang, baik PAUD, SD, maupun SMP memiliki server tersendiri.
“Jadi masyarakat tidak perlu cemas karena sistem ini dirancang untuk lebih stabil dan memberikan kepastian layanan,” imbuhnya.
Dengan sistem yang semakin terintegrasi dan berbasis digital, Pemerintah Kota Makassar berharap pelaksanaan SPMB 2026 dapat berjalan lebih tertib, adil, dan bebas dari kendala teknis maupun potensi praktik yang tidak transparan.
Terkait jadwal pelaksanaan, Achi memastikan seluruh tahapan SPMB telah disusun dan dapat diakses melalui petunjuk pelaksanaan resmi yang telah disiapkan oleh Dinas Pendidikan.
“Hari ini kita launching, tentu jadwalnya sudah ada. Masyarakat bisa melihat secara lengkap di petunjuk pelaksanaan SPMB,” pungkasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan peluncuran sistem penerimaan murid baru (SPMB) yang terintegrasi dalam aplikasi LONTARA+ merupakan langkah konkret untuk memastikan transparansi dan menutup celah praktik kecurangan dalam proses penerimaan siswa.
Menurut Munafri, pembaruan sistem tahun ini tidak lepas dari evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan SPMB pada tahun sebelumnya.
Berbagai kendala teknis, termasuk gangguan server hingga potensi penyalahgunaan sistem, menjadi bahan perbaikan yang kini telah diantisipasi.
“Ini hasil evaluasi dari tahun lalu. Sistemnya kita bedah, kita lihat apa saja kekurangannya, lalu kita perbaiki dan upgrade di tahun ini supaya tidak terjadi lagi kendala seperti sebelumnya,” ujarnya.
Dia menekankan, salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan masyarakat adalah gangguan sistem yang membuka ruang ketidakpercayaan publik.
Kondisi seperti server down, menurutnya, sering kali memunculkan spekulasi adanya praktik” titip-menitip” atau intervensi pihak tertentu dalam proses penerimaan siswa.
“Jangan lagi ada alasan server down. Karena kalau itu terjadi, orang jadi curiga, ada yang titip, ada yang dimasukkan, macam-macam. Ini yang tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Dengan berbagai pembaruan tersebut, Pemerintah Kota Makassar berkomitmen menghadirkan sistem pendidikan yang lebih baik, tata kelola penerimaan siswa baru.
Dengan integrasi sistem melalui LONTARA+, seluruh proses SPMB kini dirancang lebih terbuka dan dapat dipantau langsung oleh masyarakat.
Mulai dari tahap pendaftaran, proses seleksi, hingga hasil akhir, semuanya dapat diakses secara real-time oleh orang tua maupun calon peserta didik.
Munafri menegaskan, transparansi menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan.
Ia juga mengungkapkan, selama ini berbagai keluhan masyarakat terkait penerimaan siswa lebih banyak ditujukan ke pemerintah kota, bukan ke sekolah.
“Keluhan itu larinya ke kami, bukan ke sekolah. Makanya sistem ini harus dibuka supaya tanggung jawabnya jelas dan terbagi. Semua bisa melihat prosesnya,” jelasnya.
Dengan sistem yang semakin terbuka, ia optimistis potensi praktik kecurangan dalam penerimaan siswa dapat ditekan secara signifikan.
Kehadiran LONTARA+ diharapkan menjadi jaminan bahwa proses SPMB berjalan adil, transparan, dan akuntabel.
“Dengan sistem ini, kita ingin pastikan tidak ada lagi ruang untuk permainan. Semua harus transparan,” tutupnya.(jk)
Editor: Muh. Hamzah
















