MEDIASINERGI.CO
MAKASSAR – Tak seorang pun mengetahui di tikungan waktu mana takdir akan menyapa. Sore itu, Sabtu, 11 Juli 2026, H. Baharuddin melangkah keluar dari Masjid Besar Al-Abrar Makassar dengan hati yang teduh seusai menunaikan sholat Ashar berjamaah.
Wajahnya memancarkan ketenangan, sebagaimana lazimnya seorang hamba setelah menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Perlahan ia menyeberangi Jalan Sultan Alauddin, jalur yang telah berkali-kali dilaluinya.
Namun, dalam hitungan detik, suasana berubah. Dari arah lampu merah Jalan AP Pettarani, sebuah sepeda motor melaju dan menyenggol tubuhnya. Benturan itu membuat H. Baharuddin kehilangan keseimbangan, lalu terpental hingga menghantam sapator atau pemisah jalan.
Luka robek di bagian alis dan pipi mengucurkan darah, sementara pengendara motor sempat meninggalkan lokasi menuju arah Jalan Andi Tonro Raya.
Kejadian itu segera mengundang kepedulian para jamaah. Pengurus Masjid Besar Al-Abrar, Suhardi Dg. Rurung, bersama sejumlah jamaah bergegas memberikan pertolongan.
Mobil operasional masjid pun disiapkan untuk membawa korban ke rumah sakit setelah kuncinya diserahkan oleh Dian Purnomo, petugas celengan aktif Masjid Al-Abrar.
Namun sebelum kendaraan diberangkatkan, sebuah ambulans yang kebetulan melintas berhasil dihentikan. Tanpa menunggu lebih lama, H. Baharuddin langsung dievakuasi menuju Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Setiba di rumah sakit, tim medis segera memberikan penanganan intensif. Di saat yang hampir bersamaan, pengendara sepeda motor yang sebelumnya meninggalkan lokasi datang ke rumah sakit.
Ia mengakui keterlibatannya dalam kecelakaan tersebut dan menyampaikan kesediaannya untuk bertanggung jawab atas musibah yang menimpa H. Baharuddin.
Setelah memastikan korban berada dalam penanganan tenaga kesehatan, Suhardi Dg. Rurung kembali menuju Masjid Besar Al-Abrar dengan menumpang bayay dan membayar ongkos Rp20 ribu.
Baginya, tugas belum selesai. Menjelang terbenamnya matahari, ia harus kembali menyalakan perangkat radio masjid untuk menyambut berkumandangnya azan Magrib yang akan menggema ke kawasan Al-Abrar dan sekitarnya.
Senja pun perlahan turun. Di antara sirene ambulans, langkah para penolong, dan lantunan azan yang menggema, musibah sore itu seolah mengingatkan bahwa hidup hanya berjarak satu detik antara ketenangan dan ujian.
Yang tersisa bagi manusia adalah saling menolong, memikul tanggung jawab, dan menyerahkan segala ikhtiar kepada Allah Swt., Sang Pemilik Takdir. (sdn)











