“Saya memohon maaf atas segala kekurangan selama menjabat sebagai Kapolres. Tentu masih banyak yang belum bisa saya lakukan. Ada harapan yang belum terpenuhi dan ada keinginan yang belum dapat saya wujudkan.”
Namun, bagian yang paling membekas justru hadir pada penghujung sambutannya.
Bukan tentang penghargaan yang pernah diterima. Bukan pula tentang keberhasilan menjaga keamanan daerah. Ia hanya mengucapkan satu kalimat yang sederhana.
“Yang paling saya syukuri selama bertugas memberikan rasa aman kepada masyarakat Wajo adalah Allah SWT menjaga aib saya sebagai polisi di hadapan umum.”
Kalimat itu menggantung beberapa saat di udara. Tepuk tangan baru terdengar setelah keheningan mengambil bagiannya.
Boleh jadi, itulah pengakuan paling jujur yang lahir dari seorang polisi di akhir masa tugasnya. Bahwa di balik seragam, pangkat, dan kewenangan, ada seorang manusia yang hanya berharap mampu menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, lalu pulang tanpa meninggalkan noda bagi institusi yang dicintainya.
Syukuran Hari Bhayangkara kemudian berlanjut seperti biasa. Sejumlah personel menerima penghargaan atas prestasi dan dedikasi mereka. Senyum dan ucapan selamat kembali memenuhi halaman Mapolres Wajo.
Tetapi bagi mereka yang hadir pagi itu, Hari Bhayangkara ke-80 akan dikenang bukan semata karena seremoni atau penghargaan. Ia akan diingat sebagai hari ketika seorang Kapolres memilih berpamitan dengan tiga kalimat yang paling sederhana dalam hidup: mengucapkan terima kasih, memohon maaf, dan bersyukur.
Barangkali, di situlah letak makna terdalam sebuah pengabdian. Bukan pada seberapa lama seseorang memimpin, melainkan pada bagaimana ia dikenang ketika tiba waktunya untuk pergi. (*)
















