Laporan Eddy Mulyawan Paremma’rukka
MEDIASINERGI.CO
WAJO – Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di halaman Mapolres Wajo, Rabu, 1 Juli 2026, semestinya menjadi ruang untuk merayakan pengabdian. Namun, pagi itu, perayaan berubah menjadi sebuah perpisahan.
Di hadapan ratusan personel Polres Wajo, para purnawirawan, warakawuri, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan organisasi perangkat daerah, dan para mitra kerja kepolisian, AKBP Muhammad Rasyid Ridho berdiri menyampaikan sambutan yang untuk pertama kalinya lebih banyak berisi ucapan terima kasih daripada laporan keberhasilan.
Hampir dua tahun memimpin Polres Wajo, perwira berpangkat melati dua itu kini harus menutup satu babak pengabdiannya. Ia tak memilih mengenang capaian. Ia justru mengingat orang-orang yang telah berjalan bersamanya.
“Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat Wajo, para pejabat Forkopimda, kepala OPD, dan seluruh jajaran Polres Wajo atas segala dukungan yang diberikan selama hampir dua tahun saya menjabat sebagai Kapolres Wajo,” katanya.
Kalimat itu meluncur tenang. Tidak tinggi, tidak pula berapi-api. Tetapi cukup untuk membuat suasana syukuran terasa lebih hening daripada biasanya.
Sesaat kemudian, ia berbicara tentang sesuatu yang jarang diucapkan seorang pemimpin di penghujung masa jabatan: keterbatasan.
Ridho mengakui masih banyak harapan yang belum sempat diwujudkan. Masih ada pekerjaan yang belum selesai, dan masih ada keinginan masyarakat yang belum dapat dipenuhi. Karena itu, ia memilih menutup pengabdiannya dengan sebuah permohonan maaf.
















