Mereka yang mengenalnya akan mengingat sosok yang tenang dalam bersikap, bijaksana dalam mengambil keputusan, tetapi tegas ketika prinsip dipertaruhkan. Ia tidak banyak berbicara untuk didengar, melainkan lebih banyak bekerja agar organisasi tetap dipercaya.
Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar PWI dan insan pers Indonesia. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai daerah, menjadi bukti bahwa jejak pengabdiannya tidak berhenti pada jabatan, melainkan hidup dalam ingatan banyak orang yang pernah berjalan bersamanya.
Seorang wartawan pada akhirnya tidak hanya meninggalkan arsip berita. Ia juga meninggalkan teladan. Dan itulah warisan terbesar H. Diapari Sibatangkayu.
Selamat jalan, Bang Diapari.
Terima kasih telah mengajarkan bahwa pena bukan sekadar alat untuk menulis, melainkan amanah untuk menjaga kebenaran. Terima kasih telah menunjukkan bahwa integritas adalah mahkota tertinggi seorang wartawan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan menghadapi kehilangan ini.
Jejakmu akan tetap hidup, selama masih ada wartawan yang memilih menjaga etika di atas segala kepentingan. Selamat jalan, Penjaga Marwah Profesi. (***)
















