Menurut Munafri, ke depan masyarakat harus mulai melihat sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai apabila dikelola dengan benar.
“Nah, sekarang kita masuk ke dalam era untuk mengubah sampah menjadi uang,” tegasnya.
Salah satu instrumen yang terus diperkuat pemerintah adalah keberadaan bank sampah.
Tidak hanya sampah anorganik yang memiliki nilai jual, pemerintah juga mulai mendorong pengelolaan sampah organik agar dapat memberikan manfaat ekonomi.
Lanjut dia, sampah organik, kata Munafri, dapat diproses menjadi kompos yang selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian maupun penghijauan.
“Tidak hanya sampah anorganik yang bisa dijual-belikan, ke depannya juga sampah organik setelah melalui hasil proses yang akhirnya menjadi kompos,” ungkapnya.
Dia bahkan membuka peluang agar pemerintah dapat menyerap hasil pengolahan sampah organik tersebut untuk kebutuhan tanaman yang dikelola pemerintah.
“Ini nanti akan menjadi bagian dari kewajiban pemerintah mungkin membeli dari sampah ini sebagai pupuk untuk tanaman-tanaman yang ditanam oleh pemerintah,” imbuhnya.
“Dan dipakai masyarakat untuk bagaimana mengantisipasi yang namanya pertanian modern di tingkat bawah,” sambungnya.
Selain pengelolaan sampah, Munafri juga memaparkan sejumlah inovasi berbasis masyarakat yang tengah dikembangkan di tingkat kelurahan.
Salah satunya adalah rencana menjadikan Kelurahan Balla Parang sebagai kelurahan tematik berbasis herbal.
Program tersebut diinisiasi bersama dr Anna, yang selama ini memiliki perhatian terhadap pengembangan tanaman herbal.
Munafri mengatakan, pengembangan Balla Parang sebagai kelurahan herbal diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana potensi lingkungan sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan, sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Beberapa kelurahan akan menjadi kelurahan tematik. Salah satunya Kelurahan Balla Parang. Dan itu diinisiasi oleh orang baru, Ibu Dokter Anna yang dulu di ahli herbal,” bebernya.
Dalam kesempatan tersebut, Munafri juga menyinggung perubahan kondisi lingkungan di kawasan Antang, khususnya kawasan yang selama ini dikenal berkaitan erat dengan persoalan persampahan.
Ia menyebut kondisi lingkungan di kawasan tersebut kini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya.
“Di Antang itu dulu kalau kita lewat itu bau sekali, sekarang Alhamdulillah sudah bagus sekali,” tegasnya.
Mantan CEO PSM itu menegaskan, perubahan tersebut harus terus dijaga dan diperkuat melalui keterlibatan masyarakat.
Dia berharap kehadiran berbagai kelompok masyarakat, termasuk KKDB, dapat menjadi bagian dari gerakan bersama membangun Kota Makassar melalui kontribusi sesuai bidang masing-masing.
“Dengan kehadiran Bapak Besar ini, keberadaan Kota Makassar banyak hal yang bisa diselesaikan bersama-sama,” pungkas Munafri.(jk)
Editor: Syafruddin Menroja
















