MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar membuka peluang lebih luas untuk memperkenalkan potensi pariwisata dan produk kerajinan lokal Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal ke pasar internasional.
Peluang tersebut mengemuka dalam pertemuan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di dampingi Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan CEO dan Founder IBR, Imat Badruddin, di Kantor Wali Kota Makassar, Senin 24 Agustus 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Imat Badruddin berbagi perspektif mengenai peta peluang pasar global, khususnya di sektor hospitality, pariwisata, industri kreatif, hingga pengembangan talenta agar sumber daya manusia (SDM) Makassar mampu bersaing di tingkat internasional.
Imat yang merupakan diaspora Indonesia dan berbasis di New York, Amerika Serikat, memiliki pengalaman sekitar dua dekade di bidang pemasaran, komunikasi kreatif dan manajemen talenta.
Menurutnya, Makassar memiliki modal yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi salah satu kota dengan ekosistem ekonomi dan pariwisata yang mampu terkoneksi dengan pasar global.
“Banyak potensi di Kota Makassar, kota ini, tidak mulai dari nol. Makassar sudah harus melangkah jauh,” ujar Imat dalam pemaparannya.
Ia menilai Kota Makassar sebagai ibu Kota Provinsi Sulsel, memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari posisi strategis sebagai gateway kawasan Indonesia Timur, keberadaan perguruan tinggi, potensi pariwisata, hingga basis komersial yang telah berkembang.
Potensi tersebut, tinggal dikemas dan dimonetisasi melalui strategi yang tepat sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
“Makassar punya tourism asset yang besar. Tinggal bagaimana dikembangkan menjadi satu tourism ecosystem,” katanya.
Imat kemudian menawarkan tiga gagasan yang dinilai dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan Makassar menuju pasar global, yakni Experience (pengalaman), Creative Outsourcing Center atau kerja sama, dan Makassar Hub.
Lanjut dia, Experience Makassar diarahkan untuk mengembangkan dan mengemas pengalaman wisata yang dimiliki Makassar, sehingga memiliki daya tarik bagi wisatawan mancanegara.
Sementara Creative Outsourcing Center tidak dimaksudkan untuk mengambil alih atau bersaing dengan pelaku industri kreatif lokal.
Sebaliknya, konsep tersebut diarahkan untuk menghubungkan talenta lokal dengan kebutuhan industri dan pasar global.
Menurut Imat, Makassar memiliki banyak talenta potensial, terutama yang berasal dari perguruan tinggi.
Talenta tersebut dapat diarahkan untuk mengerjakan berbagai kebutuhan industri internasional tanpa harus meninggalkan Makassar.
“Jadi Creative Outsourcing Center bukan berarti kita buka studio di sini kemudian bersaing dengan orang kreatif di sini,” tuturnya.
“Justru talenta yang ada di sini kita hubungkan dengan kebutuhan di luar,” sambungnya.















