MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Meningkatnya kebutuhan kayu Bitti untuk industri pembuatan perahu Phinisi di Bulukumba Sulawesi Selatan memerlukan perhatian dari pemerintah. Karena selama ini kebutuhan bahan baku kayu Bitti itu dipasok dari Papua, Maluku dan juga dari Kabupaten Luwu Sulsel, sehingga jika tidak segera diatasi, maka kemungkinan industri perahu Phinisi di Bulukumba akan terhenti, begitupun dengan industri kerajinan meubel lainnya yang banyak digeluti masyarakat di Sulsel, juga terancam tutup.
Demikian diungkapkan Direktur JURnaL Celebes, Mustam Arif yang didampingi Koordinator Pemantau Ferdhiyadi N dalam jumpa pers yang diikuti sejumlah media di Makassar, yang berlangsung di Cafe Baca, Sabtu 19 Juni 2021.
Dikatakan, industri kerajinan perahu Phinisi merupakan keterampilan yang digeluti masyarakat Bulukumba secara turun temurun dan merupakan potensi peninggalan budaya Suku Bugis Makassar, sehingga jika tidak segera dilakukan budidaya pohon kayu Bitti oleh pemerintah Provinsi Sulsel, maka suatu saat industri kerajinan perahu Phinisi di Bulukumba akan mandek.
Seperti diketahui, kayu yang digunakan untuk membuat perahu phinisi itu adalah jenis kayu Bitti yang hanya tumbuh di beberapa kabupaten di Sulsel dan kini semakin sulit ditemukan, karena tidak adanya budidaya tanaman kayu Bitti tersebut.
Jika kayu tersebut semakin langka, maka ada kecederungan bahan baku kayu Bitti diperoleh dari luar Sulawesi dan didatangkan secara ilegal, karena harganya pasti kian tinggi. Bahkan, hasil dari tim penegakan hukum (Gakkum) hasil hutan sudah mendapatkan dan menyita penjualan kayu Bitti itu secara ilegal tanpa dilampiri dokumen resmi hasil hutan.
Kelangkaan kayu Bitti itu juga membuat 1.000 industri kerajinan kayu di Sulsel juga kesulitan bahan baku, padahal industri kerajinan kayu meubel itu banyak digeluti masyarakat lokal.
Dimasa pandemi ini, para pengrajin kayu meubel itu mengharapkan adanya bantuan modal dari pemerintah dan juga bantuan akses pasar, keterampilan inovatif dan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang diharapkan bisa mengerem munculnya pasar kayu yang diperoleh dari hutan secara ilegal.
Melihat kondisi itulah, sehingga JURnaL Celebes melaksanakan program pemantauan hutan dan peredaran kayu di Sulawesi Selatan, yang menilai kondisi tersebut akan berdampak terhadap[ kelanjutan industri kayu.
















