Oleh: H. SYAKHRUDDIN.DN (Perintis Tagana Indonesia)
MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Taruna Siaga Bencana (Tagana) Indonesia, sebentar lagi akan memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke-18, Kamis 24 Maret 2022 akan datang
Perjalanan panjang yang dilalui, tentu saja para anggotanya telah tersebar di seluruh Indonesia, mengalami banyak suka dan duka dalam proses pengabdiannya, sebagai relawan kemanusiaan yang memiliki slogan “Dimana Ada Bencana, Disitu Ada Tagana”
Penulis sebagai salah seorang Perintis Tagana Indonesia yang ikut membubuhkan tanda tangan dalam proses pembentukan Tagana di Lembang Jawa Barat, tentu saja banyak dinamika perjalanan organisasi, dibawah tagline komando “One Command – One Rule – One Corps (Satu Komando – Satu Aturan dan Satu Korps).
Sejenak kami mengajak pembaca, untuk melihat momentum sejarah perjalanan, dimana pada tanggal 24 Maret 2004, oleh Departemen Sosial (Nama masa itu) memanggil calon peserta dari masing-masing provinsi sebanyak dua orang, untuk hadir di Pusdiklat (Pusat Pendidikan & Latihan) Kesos di Lembang – Bandung Jawa Barat.
Karena permintaan saat itu, satu orang dari unsur Kepala Seksi Karang Taruna di level provinsi dan satu orang dari pengurus Karang Taruna yang aktif.
Maka dua orang utusan Sulawesi Selatan diberangkatkan dengan perjalanan dinas ke Lembang, atas nama Drs. H. Syakhruddin.DN, M,Si dan Andi Syafri Sulo dari kalangan Pengurus Karang Taruna Sulawesi Selatan.
Kami belum tahu apa target yang ingin dicapai, yang pasti kami diberikan kesempatan untuk memikirkan, nama apa yang tepat diberikan untuk sebuah organisasi sosial baru dilingkungan Departemen Sosial.
Sebelumnya sudah dikenal di masyarakat, nama-nama seperti Satgasos-PB, Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan pilar partispan lainnya, dibidang bantuan sosial.
Kala itu, begitu banyak produk dari masing-masing Dirjen di lingkungan Departemen Sosial, mereka seakan berlomba menciptakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.
Setelah upacara pagi dengan komandan upacara, Drs. Iyan Kusmadiana, M.Si (Sekarang menjadi Direktur PSKBA di Kemensos) sedang Penulis merupakan peserta yang disematkan tanda peserta bersama Fitri dari Sulawesi tengah.
Menjelang sambutan yang dibacakan pembina upacara, maka hasil diskusi yang berlangsung alot malam sebelumnya,dipimpin Bapak Andi Hanindito, M.Si, disepakati bahwa nama organisasi yang baru adalah : Taruna Siaga Bencana (TAGANA)
Perjalanan waktu dari tahun anggaran yang tertulis dalam DIPA Departemen Sosial, tahun 2006 kembali lagi dilaksanakan pemantapan Tagana se-Indonesia. Perjalanan dua tahun dari 2004-2006, setelah melalui pelatihan di provinsi masing-masing.
Maka yang harus diberangkatkan kembali ke Lembang adalah Kepala Seksi yang menangani Karang Taruna di provinsi dan ketua angkatan pertama pelatihan Tagana di level provinsi, maka terpilihlah Muhlis Moed dari Kabupaten Gowa, karena saat itu Muhlis menjadi ketua angkatan.
Dengan pesawat Garuda Indonesia, kami berangkat menuju Hotel Grand Lembang Jawa Barat, sebagai perwakilan dari Provinsi Sulawesi Selatan, masing-masing Drs H.Syakhruddin DN, M.Si dan Muhlis Moed, S.KM dari Gowa.
Disinilah kisruh awal, siapa sebenarnya Perintis Tagana, apa yang diberangkatkan pada tahun 2004 atau yang mendapat perlengkapan dari ujung kaki sampai kepala, yang dilaksanan pada kesgiatan pemantapan Tagana di bulan April 2006.
Mengingat ada yang hadir di tahun 2004 tetapi tidak hadir di tahun 2006, entah karena mutasi jabatan sang pejabat Kasi Karang taruna atau ada kebijakan dari Dinas Sosial di provinsi masing-masing.
Akhirnya dalam suatu pertemuan para Kabid Banjamsos masa itu, dengan perwakilan Tagana se-Indonesia, disepakati bahwa yang dimaksudkan dengan Perintis Tagana adalah yang hadir di Lembang pada tahun 2004 dan 2006, termasuk mereka yang tergabung dalam Jambore di Cibubur.
Dengan demikian, dari Provinsi Sulawesi Selatan yang berhak menyandang gelar sebagai Perintis Tagana Indonesia adalah Drs. H. Syakhruddin. DN, M.Si, Andi Syafri Sulo dan Muhlis Moed, S.Km.
Begitulah catatan sejarah yang sampai hari ini, ketiganya masih tetap eksis di Tagana dan aktivitas lainnya pada pengabdian di bidang kemanusiaan.
Perjalanan berikutnya dari 2006 hingga 2022 tentu saja banyak hal yang telah dilakukan, termasuk menghadiri upacara puncak peringatan di tingkat nasional, walaupun dua tahun terakhir ini hanya dilakukan melalui zoom meeting akibat pandemi covid-19.
Bila kembali membuka dokumen lama maka dari data dan fakta yang menjadi “Peserta Pertemuan Dasar Taruna Siaga Bencana (Tagana) se-Indonesia pada Balai Diklat Kesos Lembang – Bandung – Jabar pada tanggal 23 – 27 Maret 2004, sesuai foto dokumentasi yang di produksi Utaris Foto dan kembali dipublikasi oleh Jhony Rohi dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berikut nama-nama yang terdokumentasi dalam foto Utaris :
1. Satria (Karang Taruna Indonesia)
2. Drs. Soetarso, M.Sw (Ahli Kebencanaan Indonesia)
3. Much. Masduki
4. H. Safwan, SH (Dirjen)
5. Sri Muhardji (RAPI)
6. Drs. Purnomo Sidik (Direktur) – Almarhum
7. Drs. Ghazaly. H.S (Sekjen)
8. Drs. Wawan Mulyawan
9. Drs. Andi Hanindito (Pusat) – Panglima Tagana Indonesia
10. Yolak, SE, MM (Pusat)
11. Hernalom (Pusat)
12. P. Manu (Pusat
13. Sugeng (pusat)
PESERTA
1. Yainal Bakri (Nanggroe Aceh Darussalam)
2. Ikhman Faluthi (Nanggroe Aceh Darussalam)
3. L. Faisyalsyah (Sumatera Utara)
4. Drs. Sumarno (Sumatera Utara)
5. Sudirman. A (Sumatera Barat)
6. Erry. G, SH (Sumatera Barat)
7. Ismed. J (Riau)
8. Asro (Papua)
9. Dodi.AK (Riau)
10. Perly (Jambi)
11. Asnawi (Jambi)
12. Febrian (Sumatera Selatan)
13. Yoedhi (Sumatera Selatan)
14. Edi Suarni (Bengkulu)
15. Salim. M (Bengkulu)
16. I Teguh R (Lampung)
17. Sofi. M (DKI)
18. Roberet. W (DKI)
19. Gurmewa (Lampung)
20. Ronald (Papua)
21. Tita Tarina (Jawa Barat)
22. A.Gunawan (Jawa Barat)
23. S.Agus.R (Jawa Tengah)
24. Haniyano (Jawa Tengah)
25. Teguh (Daerah Istimewa Yogyakarta)
26. Purwanto (Jawa Timur)
27. Lasir (Jawa Timur)
28. Deny (Bangka Belitung)
29. M. Sabil (Bangka Belitung)
30. A. Rosyid (Banten)
31. Syambi (Banten)
32. Irwan (Maluku Utara)
33. I.K.Gatriana (Bali)
34. Edhiansyah (Kalimantan Timur)
35. Mardjudin (Kalimantan Timur)
36. Rahmat (Kalimantan Barat)
37. Dalimin (Daerah Istimewa Yogyakarta)
38. IWJ Arnana (Bali)
39. Nurhaspandi (Kalimantan Barat)
40. Sri Wahyuni (Kalimantan Tengah)
41. M.Banjarnahor (Kalimantan Tengah)
42. Supriadi (Kalimantan Selatan)
43. Rusmin N,S,Ag,S,Sos (Kalimantan Selatan)
44. Y.Meriane Rumerung (Sulawesi Utara)
45. Johanis Wowor (Sulawesi Utara)
46. Jemi Leksy Maya (Maluku Utara)
47. Andi Mahmud (Sulawesi Tengah)
48. Irma (Sulawesi Tengah)
49. Rajjas (Sulawesi Tenggara)
50. Jumarto (Sulawesi Tenggara)
51. H. Syakhruddin. DN (Sulawesi Selatan)
52. Andi Syafri Sulo (Sulawesi Selatan)
53. Drs. Zulkifli Lubis (Nusa Tenggara Barat)
54. Drs. Suwarso (Nusa Tenggara Barat)
55. Johny Roni (Nusa Tenggara Timur)
56. Samuel Hittaubes (Nusa Tenggara Timur)
57. Fredrik K (Maluku)
58. Ismet Layn (Maluku)
59. Raden N Sahi (Gorontalo)
60. Fitriani. M (Gorontalo)
Inilah yang hadir pada pada kesempatan pertama, atau pendahulu dari seluruh Tagana yang ada di Indonesia. Akan tetapi kehadirannya belum mendapatkan perlengkapan Tagana secara sempurna, kecuali baju training biru.
Nanti pada kegiatan Pemantapan Tagana yang berlangsung di Hotel Lembang tahun 2006, para peserta sudah menerima “Perlengkapan Tagana dan Surat Keputusan dari Kementerian Sosial” sebagai Perintis Tagana Indonesia, termasuk PIN Perintis yang disematkan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Kepulauan Seribu Jakarta.
Ironisnya, banyak diantara kami yang diberangkatkan menjadi Peserta Pertemuan Dasar Taruna Siaga Bencana (Tagana) se-Indonesia pada Balai Diklat Kesos Lembang – Bandung – Jabar, Tanggal 23 – 27 Maret 2004, akan tetapi tidak lagi mendapat akses dari Dinas Sosial setempat untuk pertemuan kedua pada Pemantapan Tagana tahun 2006.
Dari hasil perumusan dan pertemuan para Perintis Tagana di Kabupaten Pangandaran tahun 2021, sepakat para pengambil keputusan di Salemba Raya 28 Jakarta, untuk menjadikan kawan-kawan yang berangkat pelatihan tahun 2004, dinyatakan sebagai “Perintis Tagana Indonesia”
Selanjutnya akan diakomodir dalam satu kesatuan sistim komando, demikian halnya dengan mereka yang hadir pada Jambore Tagana di Cibubur, diwakili 10 orang setiap provinsi, ada dari unsur Pramuka, Palang Merah, Kepolisian, BMKG, Orari dan Dinas Sosial setempat.
Sesudah kegiatan ditutup dengan resmi, maka keesokan harinya terjadi “Musibah Bencana Tsunami di Aceh” sebahagian kawan-kawan ada yang langsung menuju sasaran dengan pakaian yang masih di pakai saat berada di Cibubur.
Memasuki era tahun 2006, Departemen Sosial RI kembali melaksanakan kegiatan Pemantapan Tagana, di Grand Lembang Bandung Jawa Barat, Para utusan provinsi diwakili masing-masing dua orang.
















