Home / Jakarta

Jumat, 22 Juli 2022 - 14:19 WIB

Memulihkan Keteladan Pendidik

MEDIASINERGI.CO JAKARTA — pendidikan di Indonesia kembali harus ternodai setelah tertimpa berbagai kasus asusila. Berbagai macam motif dilakukan oleh pelaku akademik untuk menghalalkan tindakan amoralnya. Label akademik, agama, dan sosial terkadang dijadikan alasan di balik aksi yang mencederai generasi muda bangsa. Akibatnya, tidak sedikit korban harus mengubur impian masa depan hanya untuk melayani nafsu semata. Sungguh, potret pendidikan yang jauh dari makna yang sesungguhnya.

Masyarakat menganggap pendidikan sebagai tempat yang tepat untuk menitipkan anaknya agar kelak menjadi manusia yang unggul. Baik unggul secara intelektual dan spiritual, yang kelak nantinya akan mengisi berbagai sektor untuk melanjutkan pembangunan negara. Namun, ternyata itu semua hanya menjadi harapan semu yang tidak memberikan hasil nyata. Perbuatan amoral melukai generasi bangsa yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang pendidik.

Baca Juga:  PERSPEKTIF ETIKA DALAM DINAMIKA KASUS KORUPSI PROYEK FIKTIF PT WASKITA KARYA

Melihat data terkait perbuatan amoral di lingkungan pendidikan cukup mengejutkan. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir, sepanjang 2021 terjadi 18 kasus perbuatan asusila yang menimpa siswa. sebanyak 22,22% terjadi di lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan sebanyak 77,78% terjadi di lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Pelakunya didominasi oleh guru sebanyak 55,55%.

Padahal pendidikan menjadi satu-satunya akses penting untuk menghasilkan generasi yang berkualitas bagi suatu negara. Ketika wajah pendidikan itu tidak bisa menciptakan lingkungan yang aman, ilmiah, dan agamis dapat dipastikan masa depan suatu negara akan suram. Lalu, akan didapatkan dari mana generasi yang berkualitas jika bukan dari lembaga pendidikan?

Pandangan Islam
Lembaga pendidikan dalam pandangan Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam melahirkan generasi hebat dalam catatan sejarah peradaban. Tidak ada karya ilmu pengetahuan yang paling banyak dihasilkan kecuali dari goresan para ilmuwan muslim dari hasil dari proses pendidikan.

Baca Juga:  Kasad Ajak Dansat Perkuat Kepedulian dan Dukung Program Pemerintah

Kitab Madza qaddamal muslimuna lil alam karya Ragrib As-Sirjani mencatat bahwa jumlah karya yang ada di perpustakaan Baitul Hikmah di Bagdad tak terhitung. Bahkan, karena banyaknya jumlah buku sampai bisa mengantarkan pasukan Tartar menyeberangi sungai Tigris di atas tumpukan buku.

Berbagai karya besar tidak terlepas dari peran generasi hebat yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Sederet nama ilmuwan muslim bermunculan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sejarah Islam mencatat hampir seluruh bidang ilmu pengetahuan berhasil dikuasai, seperti Ibnu Sina ahli kedokteran, Al-Idris ahli geografi, Jabir bin Hayyan ahli kimia, Ibnu Firnas ahli penerbangan, dan Al-Jazari ahli mekanika. Berkat melalui jasa mereka manusia saat ini bisa merasakan kecanggihan teknologi.

Share :

Baca Juga

Jakarta

Integrasi Data Bea Cukai-Pajak Dinilai Mendesak, BCW: Jangan Berhenti pada Pertukaran Data

Jakarta

Komisi III Setujui 11 Hakim Agung dan 3 Hakim Ad Hoc, Satunya Putra Toraja

Jakarta

Kasad Ajak Dansat Perkuat Kepedulian dan Dukung Program Pemerintah

Jakarta

Daerah Bernafas Lega, Gaji PNS – PPPK Ditransfer Pekan Depan

Jakarta

PWI dan AFPI Perkuat Literasi Pindar, Pers Didorong Jadi Garda Terdepan Edukasi Publik Lawan Pinjol Ilegal

Jakarta

PWI Pusat dan AFPI Gelar Workshop Jurnalistik Bahas Pindar, Inklusi Keuangan, dan Perlindungan Publik

Jakarta

Dimediasi Dasco, PWI Sepakat Cabut Laporan Polisi Terhadap Hotman Paris

Jakarta

Menteri PPPA Hadiri  Peringatan HAN 2026 di Yayasan Sakura Indonesia Al Jamaan Bogor