Home / Tak Berkategori

Rabu, 26 Februari 2025 - 16:19 WIB

Strategi Dakwah di Era Digital, Sasar Generasi Muda dan Menjaga Kearifan Lokal

MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Kegiatan Pembinaan Mubaligh Pemerintah Kota Makassar angkatan ke-2 berlangsung pada Selasa, 25 Februari 2025, di Gedung Islamic Center IMMIM.

Acara ini mengusung tema “Dengan Pembinaan Mubaligh, Kita Berantas Kesyirikan yang Masih Ada di Masyarakat dan Meningkatkan Psikologi Dakwah Anak Muda di Media Sosial.”

Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus masjid, dai, ulama, serta kyai, dengan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Anregurutta Dr. KH. Amrullah Amri dan Prof. Dr. Nurhidayat M. Said.

Keduanya membahas strategi dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya dalam menghadapi tantangan dakwah di media sosial bagi generasi muda.

Baca Juga:  Diskominfo Makassar Undang Ndoro Kakung, Praktisi Media Sosial Bagikan Tips Kehumasan Era Digital

Pentingnya Strategi Dakwah yang Bijak dan Berlandaskan Kearifan Lokal
Dalam paparannya, KH. Amrullah Amri menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk refreshing bagi para mubaligh dalam menyampaikan dakwah secara efektif.

Ia mengingatkan bahwa dakwah adalah tugas yang harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa mudah menghakimi atau menjustifikasi sesuatu sebagai bid’ah.

“Setiap orang memiliki cara berdakwah yang berbeda, ada yang berdakwah karena jabatannya, ada yang karena keilmuannya. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengajak orang menuju kebaikan dengan pendekatan yang bijak,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami budaya dan kearifan lokal dalam berdakwah. Sebagai contoh, Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Cirebon mengadopsi strategi yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat itu, seperti tidak langsung melarang penyembelihan sapi yang masih dianggap suci oleh masyarakat.

Baca Juga:  Koramil Pitumpanua dan Warga Bersihkan Pantai Siwa, Jaga Ekosistem Laut dari Sampah

Di Sulawesi Selatan, tradisi Maccera Tasik di Bulukumba yang awalnya berupa ritual adat, kini telah dimodifikasi menjadi lomba perahu berhias atau Massorong Unti ke laut i Bone, dengan pendekatan dakwah yang lebih relevan.

“Para dai harus mampu memahami konteks syariat, hadits, dan syiar dengan baik. Jangan terlalu cepat menyalahkan, tetapi perbanyak membaca dan berdiskusi agar dakwah semakin kuat dan diterima masyarakat,” tegasnya.

Share :

Baca Juga

Sulsel

DLH Makassar Tambah 30 Motor dan 10 Armroll, Serta Siapkan Puluhan Mesin Pengolah Sampah

Sulsel

Munafri Geram Data Iuran Sampah Tak Seragam, Camat dan Lurah Diminta Turun Cek Ulang di Rumah Warga

Pendidikan

Redaksi Publikasi Visitasi Perguruan Tinggi

Makassar

Maulid Nabi, Hj Umiyati Ajak Masyarakat Hadirkan Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan

Sulsel

Kota Makassar Bergemuruh, MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 Resmi Dibuka Menag RI

Advertorial

Dosen FT UNM Gelar Pelatihan Artificial Intelligence (AI) bagi Guru IGTKI Kecamatan Pattallassang, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Digital
Oase dari Sang Jenderal di Tengah Badai Fitnah Saudara Kandung

Sulsel

Defile Kafilah MTQ VIII KORPRI Nasional Resmi Dilepas di Balai Kota Makassar