MEDIASINERGI.CO
MAKASSAR – Hari pertama mengenal dunia kampus ternyata menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi sejumlah mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar. Di tengah rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), mereka mengangkat selembar kertas dengan kalimat tegas: “Tolak Militer Masuk Kampus.”8
Aksi itu dilakukan sebagai bentuk kegelisahan terhadap hadirnya unsur militer dalam lingkungan kampus. Bagi mereka, kampus adalah ruang sipil, tempat mahasiswa belajar, berdiskusi, bertanya, mengkritisi keadaan dan membangun tradisi berpikir bebas.
Penolakan tersebut bukan berarti menolak TNI sebagai institusi negara, tetapi mempertanyakan batas kehadiran militer di ruang akademik.
Yang kemudian menjadi perhatian adalah munculnya informasi bahwa mahasiswa yang menyampaikan sikap tersebut dapat diproses, bahkan disebut-sebut terancam sanksi hingga Drop Out.
Namun, informasi mengenai sanksi tersebut belum menjadi keputusan resmi yang terkonfirmasi dari pimpinan UIN Alauddin. Karena itu, ruang klarifikasi dan dialog menjadi penting agar persoalan tidak berkembang menjadi ketegangan yang lebih besar.
Mahasiswa baru memang masih hijau dalam dunia akademik. Tetapi suara mereka mengingatkan kita pada satu hal sederhana: kampus seharusnya mengajarkan keberanian berpikir, bukan ketakutan untuk bersuara.
PBAK semestinya menjadi pintu pertama menuju kebebasan akademik, bukan awal dari rasa takut menyampaikan pendapat (sdn)
Kampus bukan barak. Mahasiswa bukan prajurit.
Tetapi mahasiswa juga bukan musuh negara.
Mereka hanya sedang belajar menjadi warga negara yang kritis—dan mungkin, justru di situlah makna sesungguhnya dari pendidikan. (r)










