Home / Makassar / Sulsel

Kamis, 7 Februari 2019 - 09:15 WIB

PERS DI ERA DIGITAL

Perayaan HPN dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi, walau dengan tema berbeda dan peserta berasal dari provinsi berbeda pula, namun mereka memiliki tujuan sama yakni sebagai ajang mengungkap pendapat sekaligus memetik manfaat dari perayaan HPN yang setiap tahunnya dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia.

Ada tuntutan psikologis memang, bahwa pers harus tumbuh dan berkembang sejalan perkembangan teknologi dan peradaban manusia, karena disadari bahwa pers ikut membangun karakter bangsa (character building) menciptakan bintang dan mencetak tokoh, sekaligus menyejukkan suasana. Untuk itu pers tidak bisa dipandang sebelah mata oleh siapa pun termasuk mereka yang menggeluti profesi sebagai penyandang gelar “pengawal kebenaran dan keadilan”,  dia itu adalah wartawan sosok abdi negara dan abdi masyarakat yang senantiasa menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi dan golongan, memiliki idealisme sebagai bagian dari Pers Indonesia. Mereka bersama perusahaan pers, media, Serikat Penerbit Surat Kabar, dan oraganisasi wartawan Indonesia bekerja sekuat tenaga guna menggeser bahkan menghentikan penyebaran hoaks atau berita bohong. Memang tugas mereka bukan pekerjaan gampang, karena itu perlu gerakan bersama dan upaya berkelanjutan (sustainable) dengan cara mewujudkan karya jurnalistik berkualitas, bermoralitas dan berintegritas yang semuanya termaktub dalam Kode Etik Jurnalistik KEJ.

Baca Juga:  Dampingi Pj Gubernur Sulsel Tinjau Pelaksanaan MBG di Makassar, Danny Pomanto: Jauh Lebih Baik

Dengan independensi pers menyampaikan kritik yang kadang kala pedas tetapi tetap pada prinsip metedologis berdasar fakta dengan disiplin ferifikasi sehingga pandangan-pandangan pers dapat dipertanggung jawabkan.

ERA DIGITAL

Berbicara tentang teknologi digital maka pikiran kita tertuju pada internet. Kini, peluang media terbuka untuk menggunakan berbagai macam flatform yang tersedia pada internet sebagai salah satu sistem pengiriman pesan. Para praktisi media tentu saja cenderung menggunakan flatform yang menguntungkan tetapi idealisme wartawan tetap menjadi bagian perjuangan pers dalam membina dan menjaga kedaulatan rakyat Indonesia.
Teknologi digital merupakan potensi yang perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya karena memiliki banyak kelebihan; mempermudah yang sulit, mempercepat yang lambat, menaikkan yang rendah dan menggeser yang tertinggal. Selain itu juga dapat memberi dapak buruk apabila pengguna teknologi digital kurang memahami hakekat dan tujuan pentingnya suatu kemajuan teknologi. Hal yang pasti, bahwa era digital adalah era keterbukaan. Semua sekat yang ada di era analog diruntuhkan sehingga tidak ada lagi sekat atau dinding pembatas kecuali usaha berupa kehati-hatian bagi penggunanya. Kini masyarakat digempur dengan serangan bertubi-tubi media sosial dengan keleluasaan penggunanya atas alasan kebebasan mengeluarkan pendapat, ternyata selain berdampak positif juga memiliki efek negatif.

Baca Juga:  Belum Setahun Menjabat, Direksi Baru Perumda Pasar Makassar Raya Sukses Setor Dividen Rp1,3 Miliar

Bahkan dampak negatif itu bisa kembali pada diri pengguna media sosial tersebut. Memang kita perlu berhati-hati mengunakan setiap jenis media karena seperti kata orang bijak “media itu bagaikan pedang bermata dua, jika penggunanya tidak berhati-hati maka bisa mencederai pemiliknya. “Agar media sosial dapat bermanfaat, maka harus patuh pada Kode Etik Pers” (Bagir Manan.)

Di era digital bermunculan begitu banyak media ciber dan on line bagaikan jamur di musim hujan sehingga tidak lagi memperhatikan kualitas penyajian beritanya. Walau demikian cukup menggangu kestabilan perusahaan pers khususnya media cetak sehingga mengalami penurunan oplah dan berdampak pada pengurangan karyawan. Walaupun demikian, para insan pers media cetak tetap optimis bahwa media cetak tetap bertahan sejauh mereka mampu meningkatkan kualitas karya jurnalistiknya, mengedepankan faktor daya guna dan hasil guna serta produktifitas tinggi. “Karya jurnalistik yang baik dan berkualitas tetap dicari oleh pembacanya” (Dahlan Iskan.)

Hanya wartawan profesional dan berkompeten yang memiliki keterampilan menulis dengan baik mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas yang bisa memberikan inspirasi khalayak dalam rangka penguatan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi digital. (*)

Share :

Baca Juga

Advertorial

Kominfotik Wajo Ikut Kerja Bakti Gerakan Indonesia Asri, Andi Musdalifah: Kebersihan Tanggung Jawab Bersama

Sulsel

Wali Kota Munafri Dorong Kolaborasi dengan Indosat Percepat Transformasi Digital

SOPPENG

Wabup Soppeng Tinjau Pembangunan Gedung SR 64

Sulsel

Di Tengah Maraknya Pembangunan di Wajo, Musmuliadi Soroti Legalitas Sumber Material

Sulsel

Wali Kota Munafri Serahkan Bantuan Logistik untuk Korban Kebakaran di Kecamatan Tamalate

Advertorial

Bupati Wajo Ingatkan ASN Tidak Live di Media Sosial Selama Jam Kerja

Sulsel

Lontara Plus Bakal Dilengkapi Prakiraan Cuaca BMKG, Munafri: Sangat Bermanfaat untuk Masyarakat

Sulsel

Dinilai Sukses Kelola CSR, Wajo Terima Kunjungan Studi Tiru Pemkab Barru