Berdasarkan data asosiasi industri sutera di Wajo, Produksi Wajo, Soppeng, dan Enrekang, bisa menghasilkan 200 ton benang sutera setiap tahunnya.
“Sutera kita jauh lebiih bagus dibanding dengan benang sutera dari daerah lain, termasuk dari sutera impor, selama proses produksinya benar,” tambah Prof. Dr. Ir Nurdin Abdullah.
Untuk mengembalikan kejayaan sutera di Sulsel, harus dibuat proses pembibitan ulat lokal. “Selama ini kita impor bibit dari Jepang dan Cina. Ke depan kita kembangkan sendiri indukan sutera,” tambah Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah.
Apalagi pengembangan sutera di Wajo, Soppeng, dan daerah tetangganya sudah berlangsung turun temurun.
Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, juga memerintahkan kepada Kepala Dinas Perindustrian Sulsel Ahmadi, untuk mencari permasalahan dalam upaya kembalikan kejayaan sutera di Sulsel.
Pemerintah Sulsel, siap menghadirkan industri modern untuk meningkatkan kualitas benang, namun tetap pertahankan tenunan tradisional. “Pemerintah Sulsel akan membackup habis-habisan untuk kembalikan kejayaan sutera di Wajo dan Soppeng,” jelasnya.
Diakhiri dengan penandatanganan MoU kerjasama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan Pemkab Wajo dan Pemkab Soppeng terkait persuteraan.(Advertorial)
















