Andi Beda mengungkapkan, sesuai dengan penelitian dari Balai Bahasa ternyata setiap tahunnya, pengguna atau pengucap bahasa Mandar itu semakin menurun. “Inilah yang kami khawatirkan kelak bila bahasa Mandar akan punah, ini sudah terbukti dalam kehidupan sehari hari kita, anak anak di rumah hampir semua sudah menggunakan bahasa Indonesia bahkan sampai ke Bahasa Asing dalam berinteraksi dengan keluarga, padahal kita punya bahasa Mandar yang tetap harus kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.
Asisten II Setda Majene Andi Amran mewakili Bupati Majene dalam sambutannya menyampaikan juga menggunakan Bahasa Mandar, yang dalam bahasa Indonesianya menyampaikan bahwa ketika dirinya kemarin mengikuti pembukaan Festival Kota Tua Majene. “Saya sangat apresiasi dengan apa yang dilakukan oleh Disbudpar Majene dalam hal menjaga dan melestarikan Bahasa Mandar, dimana kita harus tetap berbangga dengan Bahasa Mandar kita sendiri, kepada Ibu-Ibu jangan karena mau lomba baru belajar berbahasa Mandar yang baik dan benar,” ujarnya.
Mengutip penyampaian dari Menteri Pariwisata dan Ekraf tentang penyebutan Kota Tua Majene, ternyata di Indonesia hanya ada dua daerah yang masuk dalam kategori kota tua di Indonesia, yaitu Jakarta dan Majene. Ini tentu sesuatu yang luar biasa dan kebanggaan bagi kita semua yang ada di Majene.
“Melalui gebrakan yang dilakukan oleh Disbudpar Majene tentu kami berharap agar Pariwisata dan Budaya Majene dapat lebih dikenal lagi ke seantero Nusantara, bahkan sampai ke pelosok dunia. Bukan suatu hal yang mustahil, karena kita dapat menggunakan teknologi yang ada saat ini, menyesuaikan dengan kondisi pandemi yang melanda negeri kita,” lanjut Andi Amran.
Kepada dewan juri Andi Amran berpesan agar memberikan penilaian yang fair dan obyektif. “Saya kira para dewan juri tentu sudah tidak diragukan lagi akan kemampuannya dalam menilai yang pantas dan wajar,” pungkasnya. (Idham)
Editor: Manaf Rachman















