MEDIASINERGI.CO CIPUTAT — Kita melihat, mendengar, membaca, betapa mudik di Idul Fitri 1443 Hijriah tahun ini diwarnai berbagai peristiwa dramatis. Ada yang belasan jam tertahan di jalan raya karena luar biasa banyaknya kendaraan yang ke luar dari Jakarta dan sekitarnya, menuju ke Barat dan ke Timur. Tidak mengherankan, karena setelah dua tahun resmi dilarang karena Indonesia dilanda pandemi Covid 19, pada tahun ini pemerintah mengizinkan masyarakat mudik. Diperkirakan ada sekitar 80 juta orang yang kembali ke kampung halaman, dengan menggunakan transportasi darat, laut, dan udara.
Perjalanan via jalan tol, yang secara teoritis lancar, mandeg bahkan mulai dari jembatan Semanggi sampai dengan ujung Cikampek, beberapa hari sebelum Lebaran. Lalu di minus tiga hari sampai malam takbiran, jajaran kendaraan yang berhenti semakin banyak, meskipun jalan bebas hambatan itu sudah dibuat searah menuju Timur.
Di pelabuhan penyeberangan Merak, antrean masuk ke kapal mencapai belasan jam karena jumlah kendaraan yang hendak ke pulau Sumatera melebihi perkiraan. Belasan kilometer jalan tol dipadati mobil sehingga praktis tidak bergerak berjam-jam. Karena keterbatasan daya tampung maka pelabuhan di Cilegon diaktifkan untuk menampung luberan kendaraan, begitu pula ketika terjadi arus balik, pelabuhan Panjang di Lampung, dipakai untuk para pemudik.
Hal yang sama juga terjadi di Gilimanuk. Para pekerja di Bali yang ingin pulang kampung ke Jawa tidak terkira banyaknya sampai antrean ke pelabuhan juga berkilometer dan menimbulkan antrean panjang.
Yang mudik naik pesawat terbang atau kereta api, dari sisi waktu mungkin ada delay sedikit ataupun berdesakan saat check-in, tetapi tetap ada kerepotan saat berangkat dan tiba di stasiun atau bandara keberangkatan atau kedatangan. Tidak senyaman hari-hari biasa karena volume orang bertambah, melebihi kapasitas tempat. Selain jumlah penumpang, barang-barang bawaan pun berlebihan sehingga suasana membuat nafas sesak atau tubuh lelah.
***
Ada banyak keluhan, ada puluhan mungkin ratusan komplain. Ada rasa kesal, bahkan mungkin pula marah. Tetapi itu semua hilang begitu para pemudik bertemu ayah dan ibu, atau mungkin kakek dan nenek, sanak saudara, handai taulan di tempat tujuan. Yang ada adalah kegembiraan bertemu. Bertatap muka. Bersalaman atau berpelukan. Atau sungkem.
Itulah puncak kebahagiaan yang dicari, sehingga apapun dilakukan untuk dapat mencapainya. Tidak diperhitungkan kesengsaraan. Tidak diperhitungkan susah payah. Tidak diperhitungkan pula ongkos atau biayanya.
Tidak ada rasionalitas dalam pulang, kembali ke kampung halaman. Yang penting adalah pulang. Datang ke tempat kelahiran, ke rumah masa kecil, ke suasana lama, bertemu kerabat dan juga sahabat-sahabat. Dan ini tidak ternilai harganya.
















